Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Asyhadu an-laa ilaaha illallaah Wa asyhadu anna Muhammadan rasuulullaah
Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah rasul (utusan) Allah.
Silahkan Membaca dan Menyimak
PARA SAHABAT RASULULLAH S.A.W., para tabi'it tabi'in, kalangan ahlus sunnah dan ahlul hadis bersepakat bahwa surga sudah ada saat ini. Para pakar fikih Islam, para sufi, dan orang-orang zuhud percaya dan membenarkan kesepakatan mereka itu berdasarkan teks-teks al-Qur'an, Sunnah, dan hal-hal yang diketahui niscaya dari kabar-kabar semua rasul, dari awal hingga akhir.
Dalam waktu yang lama, mereka semua menyatakan bahwa surga sudah diciptakan. Hingga muncul orang-orang Qodariyah dan Mu'tazilah yang menolak keberadaan surga saat ini.
Kaum Qodariyah dan Mu'tazilah berpendapat surga akan diciptakan di Hari Pembalasan. Mereka mendasarkan pendapat itu pada pokok-pokok argumen yang rusak, yang dikaitkan dengan syariat.
Tentang tindakan Tuhan, mereka menyatakan ada hal-hal yang harus dilakukan Allah, ada pula hal-hal yang tidak harus dilakukan-Nya. Mereka mengkiaskan tindakan Allah dengan tindakan-tindakan manusia. Menurut mereka, Allah dan manusia punya keserupaan dalam tindakan. Mereka juga berpendapat bahwa Allah tidak bersifat.
Mengenai surga, mereka berpendapat, bahwa penciptaan surga sebelum Hari Pembalasan adalah tindakan yang sia-sia, karena tidak dihuni pada waktu yang sangat lama, dan akan hancur saat kiamat datang, lalu dibangun lagi. Jika para malaikat telah membangun surga, yang diisi dengan beragam makanan, beragam perabot, dan hal-hal yang dibutuhkan, namun surga tak ditempati selama berabad-abad, maka tindakan malaikat itu tidak selaras dengan kebijaksanaan-Nya.
Golongan ini mengungkapkan rasio. Mereka menilai Allah dengan akal yang rusak dan pendapat yang batil. Mereka kiaskan tindakan Allah dengan tindakan-tindakan mereka. Mereka kaitkan pendapat mereka dengan teks-teks yang bertentangan dengan syariat yang ditetapkan Allah. Namun, mereka kait-kaitkan pendapat mereka dengan syariat. Lantas, mereka anggap sesat dan bid'ah orang-orang yang menentang mereka. Mereka mengharuskan sesuatu yang ditertawai oleh orang-orang yang berakal.
Sebaliknya, ulama salaf percaya, bahwa surga dan neraka telah diciptakan. Orang-orang ahli sunnah dan hadis sepakat dengan pendapat itu.
Imam Abu Hasan Al-Asy'ari mencatat didalam kitab Maqaalaatul Islaamiyyin wa Ikhtilaaful Mushallin, ''Orang-orang ahlul hadis dan ahlus sunnah yang beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, wahyu-wahyu dari-Nya, dan riwayat-riwayat yang terpercaya tentang Rasulullah S.A.W., sama sekali tidak menentang (keyakinan bahwa surga dan neraka telah diciptakan).''
Mereka yakin, bahwa Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa, yang tak bersekutu dan tak beranak. Mereka pun percaya bahwa Muhammad S.A.W., adalah hamba dan Rasul-Nya. Surga itu benar adanya, demikian pula neraka. Hari Kiamat tak diragukan kehadirannya. Dan Allah akan membangkitkan orang-orang yang telah mati dari dalam kubur.
Mereka percaya Allah S.W.T., berada diatas Arsy, sebagaimana firman-Nya, ''...Yaitu, Tuhan Yang Maha Pemurah bersemayam diatas Arsy.'' (QS. Thahaa: 5). Allah memiliki tangan sebagaimana firman-Nya, ''Kuciptakan dengan kedua tangan-Ku.'' (QS. Shaad: 75). Allah memiliki dua mata, tapi tak perlu ditanyakan semacam apa, sebagaimana firman-Nya, ''Yang berlayar dengan mata (pengawasan) Kami.'' (QS. Al-Qamar: 14). Allah juga memiliki wajah, sebagaimana firman-Nya, ''Dan wajah Allah yang memiliki keagungan dan kemuliaan itu tetap tak berubah.'' (QS. Ar-Rahman: 27).
Nama-nama Allah bukanlah hal-hal selain Allah, sebagaimana dikatakan oleh Mu'tazilah dan Khawarij. Orang-orang ahlus sunnah percaya bahwa Allah berilmu, sebagaimana firman-Nya, ''Dia menurunkannya dengan ilmu-Nya.'' (QS. An-Nisaa: 166).
Ahlus sunnah memastikan Allah itu mendengar dan melihat. Mereka tidak menafikan sifat-sifat Allah itu, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Mu'tazilah. Ahlus sunnah juga yakin bahwa Allah memiliki kekuatan, sebagaimana firman-Nya, ''Tidakkah mereka memperhatikan bahwa Allah yang menciptakan mereka itu jauh lebih kuat daripada mereka?'' (QS. Fushshilat: 15)
Mereka percaya bahwa di dunia ini tidak ada kebaikan dan keburukan kecuali dengan kehendak Allah S.W.T. Ini selaras dengan firman-Nya, ''Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah.'' (QS. Al-Insaan: 30). Pendapat ini juga sejalan dengan perkataan orang-orang Islam, bahwa sesuatu yang dikehendaki Allah akan terjadi, dan sesuatu yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan terjadi.
Ahlus sunnah berpendapat, bahwa manusia tidak bisa berbuat sesuatu sebelum Allah menghendakinya. Manusia tidak bisa keluar dari pengetahuan Allah. Manusia tidak bisa melakukan sesuatu yang diketahui Allah bahwa dia tidak akan melakukan-Nya.
Ahlus sunnah yakin, bahwa tidak ada pencipta selain Allah. Keburukan yang dilakukan manusia pun ciptaan Allah. Tindakan manusia dibuat oleh Allah.
Allah S.W.T memberi petunjuk kepada orang-orang beriman untuk mentaati-Nya, dan menelantarkan orang-orang kafir. Allah S.W.T sangat lembut kepada orang-orang beriman. Dia memperhatikan mereka, memperbaiki mereka, dan memberi mereka petunjuk.
Allah S.W.T tidak berlaku lembut kepada orang kafir, tidak memperbaiki mereka, tidak pula memberi hidayah kepada mereka. Seandainya Allah berkehendak memperbaiki mereka, niscaya mereka akan menjadi orang-orang baik. Jika Allah mau memberi hidayah kepada mereka, niscaya mereka menjadi orang-orang yang mendapat petunjuk. Allah S.W.T mampu untuk memperbaiki orang-orang kafir dan berlaku lemah-lembut kepada mereka sehingga mereka menjadi orang beriman. Namun, Allah menghendaki mereka menjadi orang-orang kafir dengan pengetahuan-Nya. Allah pun menelantarkan mereka, membiarkan mereka tersesat mengunci hati mereka dalam kebatilan.
Kebaikan dan keburukan sesuai dengan ketentuan-Nya. Ahlus sunnah percaya pada ketentuan-Nya, yang baik dan yang buruk, yang manis dan yang pahit. Mereka percaya bahwa diri mereka tidak dapat menghasilkan satu kemaslahatan atau kemudaratan kecuali dengan kehendak Allah S.W.T. Mereka serahkan segala urusan mereka kepada Allah S.W.T. Mereka memohon segala kebutuhan kepada Allah S.W.T setiap waktu. Mereka selalu membutuhkan-Nya.
Ahlus sunnah berpendapat, bahwa Al-Qur'an adalah kalam Allah. Al-Qur'an bukan makhluk.
Ahlus sunnah percaya, bahwa Allah S.W.T dapat dilihat dengan mata telanjang pada Hari Kiamat. Orang-orang beriman dapat melihat-Nya seperti melihat bulan di malam purnama. Orang-orang kafir tidak dapat melihat-Nya, karena mata mereka dihijab (ditutup), seperti firman-Nya, ''Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhan mereka.'' (QS. Al-Muthaffifin: 15)
Rating Artikel Ini
Kolom Komentar
Walhamdulillahi Rabbil'alamin








0 komentar:
Posting Komentar