Tampilkan postingan dengan label taman di bumi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label taman di bumi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 November 2013

Argumen Yang Mengatakan Surga Adam Adalah Taman di Bumi


Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh




Asyhadu an-laa ilaaha illallaah Wa asyhadu anna Muhammadan rasuulullaah

Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah rasul (utusan) Allah.

Silahkan Membaca dan Menyimak


Allah s.w.t. telah mengabarkan melalui para rasul-Nya, bahwa Surga Khuldi hanya dimasuki di Hari Kiamat. Masa itu belum datang. Namun, Allah s.w.t telah menyebutkan ciri-cirinya di dalam Kitab Suci-NYA. Adalah mustahil bila Allah s.w.t menggambarkan sesuatu dan sesuatu itu tidak memiliki ciri-ciri tersebut.

Kita tahu bahwa Allah s.w.t menggambarkan sifat surga yang dijanjikan untuk orang-orang yang bertakwa dengan sebutan ''darul muqaamah (tempat yang kekal)'' (QS. Faathir: 35). Barangsiapa memasukinya, maka dia akan kekal di dalamnya. Sementara Adam a.s. tidak kekal berada di surga.



Allah s.w.t menyebut surga sebagai ''jannatul Khuldi (surga yang abadi)'' (QS. Al-Furqaan: 15). Sedangkan Adam a.s tidak abadi di dalamnya.

Allah s.w.t menyebut surga sebagai tempat pengganjaran, bukan tempat pemberian tanggungan perintah dan larangan. Sedangkan Adam mendapat perintah dan larangan di surga.

Allah s.w.t menyebut surga sebagai tempat keselamatan mutlak, bukan tempat cobaan dan ujian. Sedangkan Adam diberi cobaan besar di surga.

Allah s.w.t menyebut surga sebagai tempat yang takkan digunakan untuk bermaksiat dan menentang-Nya. Namun Adam a.s telah bermaksiat dan menentang-Nya. Namun Adam a.s telah bermaksiat dan menentang Allah s.w.t di surga.

Allah s.w.t menyebut surga sebagai tempat ketakutan dan kesedihan. Namun Adam a.s telah merasakan ketakutan dan kesedihan di surga.

Allah s.w.t menyebut surga dengan panggilan ''daarus salaam (tempat keselamatan)'' (QS. Al-An'aam: 127). Namun, Adam tidak selamat dari fitnah di dalam surga.''

Allah s.w.t menyebut surga sebagai tempat menetap (daarul qaraar) (QS. Ghaafir: 39). Namun Adam a.s tidak menetap di surga.



Allah s.w.t, berfirman, ''Mereka tidak merasa lelah di dalamnya dan mereka sekali-kali tidak akan dikeluarkan daripadanya.'' (QS. Al-Hijr: 48). Namun Adam a.s berlari-lari mencari daun untuk menutupi diri, hingga kelelahan. Dia pun dikeluarkan dari surga.

Allah s.w.t berfirman, ''Di surga tidak ada kata-kata yang tidak bermanfaat dan tidak pula perbuatan dosa.''

Allah mengatakan di surga tidak ada kebohongan. Sementara Adam a.s ditipu oleh Iblis di dalam surga.

Allah menyebut di surga sebagai ''tempat kejujuran'' (QS. Al-Qamar: 55). Namun Iblis telah berbohong dan bersumpah palsu di dalam surga.

Allah s.w.t berfirman kepada para malaikat, ''Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.'' (QS Al-Baqarah: 30). Allah tidak mengatakan, ''Aku menciptakan khalifah di surga.'' Lantas para malaikat berkata, ''Mengapa Engkau menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah?'' (QS. Al-Baqarah: 30). Hal itu mustahil ada di surga.

Allah s.w.t mengabarkan bahwa Iblis berkata kepada Adam a.s., ''Hai Adam, maukah aku tunjukkan kepada kamu pohon Khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa.'' (QS. Thaahaa: 120) Jika Allah s.w.t telah menempatkan Adam a.s di surga yang kekal dan di kerajaan yang takkan hancur, niscaya Adam a.s. Akan menjawab, ''Mengapa kau ingin memberitahu sesuatu yang telah aku terima?'' Perkataan Iblis itu menunjukkan bahwa Allah s.w.t tidak memberitahu Adam a.s. Bahwa dirinya akan berada di surga untuk selama-lamanya. Seandainya tempat Adam saat itu adalah surga yang kekal abadi, maka perkataan Iblis tak ada gunanya. Namun karena Adam a.s., tidak di Surga Khuldi, maka Iblis dapat mengiming-imingnya dengan keabadian di Surga.

Seandainya Adam tinggal di Surga Khuldi yang suci dan hanya ditempati orang suci, maka bagaimana mungkin Iblis yang najis dan hina itu dapat masuk ke surga dan menggoda Adam a.s.? Godaan itu bisa dihembuskan ke hati atau diperdengarkan di telinga. Yang jadi persoalan bagaimana mungkin makhluk yang terlaknat masuk ke tempat orang-orang bertakwa.



Allah s.w.t telah berkata kepada Iblis, ''Turunlah kamu dari surga itu, karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina.'' (QS. Al-A'raaf: 13). Apakah mungkin bagi Iblis untuk naik lagi ke surga yang terletak di atas langit ketujuh setelah diusir dari surga oleh Allah s.w.t.?

Jika dikatakan bahwa Iblis yang berada di bumi menggoda Adam dan Hawa yang berada di atas langit, maka pendapat ini sama sekali tidak masuk akal baik secara bahasa, secara inderawi maupun secara kebiasaan. Jika ada yang menganggap bahwa Iblis masuk ke perut ular yang menyampaikan godaan kepada Amdal dan Hawa, maka perkataan itu pun batik. Sebab, bagaimana mungkin Iblis dapat naik ke surga setelah diusir darinya, meskipun Iblis masuk ke perut ular?

Jika dikatakan bahwa Iblis masuk ke hati Adam dan Hawa, lantas menggoda keduanya, maka pendapat itu pun lemah. Sebab Allah s.w.t menceritakan bagaimana Iblis berbicara langsung kepada Adam dan Hawa, ''Tuhan kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga).'' (QS. Al-A'RAAF: 20). Perkataan Iblis itu menunjukkan bahwa dia melihat Adam, Hawa dan pohon Khuldi.

Ketika Adam a.s. keluar dari surga, Allah s.w.t berfirman, ''Bukankah telah melarang kamu berdua dari pohon itu?'' (QS. Al-A'RAAF: 22) Allah tidak berkata, ''dari pohon ini'', sebagaimana saat iblis berkata, ''Tuhan kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga).'' (QS. Al-A'RAAF: 20).

Ketika Iblis berkata demikian, Adam masih diberi makan dari surga. Menetap di suatu tempat ditunjukkan dengan kata tunjuk yang menunjukkan kehadiran dan kedekatan.

Ketika Allah s.w.t hendak mengeluarkan Adam dan Hawa dari surga, Allah s.w.t berfirman, ''Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon itu?'' (QS. Al-A'RAAF: 22). Di situ kata tunjuk yang digunakan adalah kata yang menunjukkan sesuatu yang jauh (itu). Ayat itu menunjukkan bahwa Adam dan Hawa tidak menetap di surga dan takkan melihat pohon terlarang lagi.

Allah s.w.t berfirman, ''Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikan-Nya.'' (QS. Faathir: 10). Godaan setan adalah perkataan kotor, yang seharusnya tidak bisa naik ke tempat suci.

Mundzir meriwayatkannya, bahwa Nabi Muhammad s.a.w bersabda, ''Adam a.s. tidur di surganya.'' Padahal tidak ada tidur di dalam Surga Khuldi (surga akhirat), sebagaimana disepakati oleh kaum Muslimin. Kesepakatan itu didasarkan pada pertanyaan seseorang kepada Nabi, ''Apakah penghuni surga tidur? Rasulullah s.a.w menjawab, ''Tidak. Tidur adalah saudara mati.'' (34) Al-Qur'an pun telah menyebutkan hal serupa. Kematian adalah perubahan kondisi. Sedangkan surga terbebas dari perubahan kondisi, dan orang yang tidur seperti orang mati.

Mujahid mengatakan, ''Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam, ketika Adam tidur.''

Asbath menyebutkan riwayat dari As-Suda yang menuturkan, ''Adam tinggal di surga. Dia berjalan sendirian tanpa pasangan, lalu ia tidur. Ketika terjaga, Adam mendapati seorang perempuan di samping kepalanya. Perempuan itu diciptakan dari tulang rusuk Adam. Adam pun bertanya kepadanya, ''Siapa engkau?'' Perempuan itu menjawab, ''Aku adalah perempuan.'' Adam bertanya, ''Untuk apa kau diciptakan?'' Perempuan itu menjawab, ''Untuk menentramkan dirimu''.


Artikel Terkait

Tags Postingan


Rating Artikel Ini


Sudah Baca Brader ??? Bener Niiih ??? Oke, Kalau Sudah Membaca Jangan Lupa Komentar


Walhamdulillahi Rabbil'alamin

Argumen Yang Mengatakan Surga Adam Adalah Surga Khuldi Bagian 2




Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh




Asyhadu an-laa ilaaha illallaah Wa asyhadu anna Muhammadan rasuulullaah

Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah rasul (utusan) Allah.

Silahkan Membaca dan Menyimak


ROAD TO HEAVEN - JALAN KE SURGA- Itu adalah pendapat yang lemah tentang ayat di atas. Permusuhan yang disebut ayat tersebut adalah permusuhan yang terjadi antara Adam, Iblis dan keturunannya, sebagaimana firman-Nya, ''Sesungguhnya setan adalah musuh kalian. Maka jadikanlah dia musuh.'' (QS. Faathir: 6). Allah s.w.t telah menyebutkan permusuhan antara setan dan manusia. Allah mengabarkan hal itu secara berulang-ulang di dalam al-Qur'an karena pentingnya kewaspadaan dalam permusuhan itu.

Adapun mengenai Adam dan istrinya, Allah telah mengabarkan di dalam Kitab Suci-Nya, bahwa dia diciptakan untuk menempati surga. Allah ciptakan cinta dan kasih sayang antara mereka berdua.

Jadi, cinta kasih itu terjadi antara laki-laki dan perempuan. Adapun permusuhan itu terjadi antara manusia dan setan.

Mengenai firman Allah s.w.t yang berbunyi, ''Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh sebagian yang lain.'' (QS. Thaahaa:123), ditujukan kepada Adam dan Hawa. Sebagian dari mereka bisa menjadi musuh bagi yang lain.

Kata ganti ''Kamu berdua'' bisa merujuk pada Adam dan istrinya, bisa juga merujuk pada Adam dan Iblis. Istri Adam tidak disebut karena mengikuti suami. Jika demikian halnya, maka permusuhan yang disebut terjadi antara orang-orang yang diturunkan adalah permusuhan antara Adam dan Iblis.

Jika kata ganti itu dirujukkan pada Adam dan istrinya, maka ayat itu mengandung dua makna. Pertama, Allah menyuruh Adam dan istrinya untuk turun. Kedua, Allah memberi tahu tentang permusuhan yang terjadi antara Adam dan istrinya melawan Iblis. Karena itu, kata ganti jamak disebutkan di bagian kedua (sebagian dari kalian), bukan di bagian pertama (kalian berdua).

Jadi, Iblis masuk dalam permusuhan yang disebutkan itu, sebagaimana firman-Nya, ''Ini adalah musuh bagimu dan istrimu.'' (QS. Thaahaa: 117). Allah s.w.t pun berfirman pada keturunan Adam, ''Sesungguhnya setan adalah musuh kalian. Maka jadikanlah dia musuh.'' (QS. Faathir: 6).

Coba perhatikan bagaimana kata permusuhan dikaitkan dengan kata ganti jamak (tiga orang atau lebih), bukan dengan kata ganti untuk dua orang (tatsniyyah). Kata ''turun'' kadang dikaitkan dengan kata ganti tunggal.

Kata ''turun'' yang diiringi kata ganti tunggal misalnya firman Allah s.w.t di dalam surah Al-Araaf: ''Turunlah dari surga.'' Contoh lainnya surah Shaad yang menyebutkan kata turun untuk Iblis semata.

Adapun kata ''turun'' yang diiringi dengan kata ganti jamak merujuk pada Adam, istrinya dan Iblis. Sebab, mereka bertigalah yang menjadi fokus cerita.

Sedangkan kata turun yang diiringi kata ganti jamak untuk dua orang, terkadang merujuk pada Adam dan istrinya - karena keduanya memakan buah pohon surga dan melakukan maksiat - atau merujuk pada Adam dan Iblis - karena keduanya pihak-pihak yang menanggung beban tanggung jawab. Kondisi permusuhan Adam dan Iblis itu ditunjukkan untuk menjadi pedoman, nasihat, dan pelajaran bagi keturunan Adam. Jadi, ada dua pendapat tentang kata ganti untuk dua orang dalam kata ''ihbithaa''.

Yang menjelaskan bahwa kata ganti tersebut untuk Adam dan Iblis adalah bahwa Allah s.w.t saat menyebut maksiat hanya menyebut Adam tanpa istrinya. Allah s.w.t berfirman, ''Durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia. Kemudian Tuhannya memilihnya maka Dia menerima tobatnya dan memberinya petunjuk. Allah berfirman, ''Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama.'' (QS. Thaahaa: 121-123). Ayat itu menunjukkan bahwa yang diminta untuk turun adalah Adam, karena dialah yang telah melakukan maksiat, sedangkan istrinya masuk sebagai pengikut.

Allah s.w.t telah mengabarkan bahwa istri Adam turut serta memakan buah terlarang itu bersama Adam. Bahwa Adam diturunkan dan dikeluarkan dari surga karena dia memakannya. Maka diketahui bahwa hukum yang diterapkan pada sang istri juga semacam itu. Dia mengalami apa yang dialami Adam.

Secara keseluruhan, firman Allah s.w.t yang berbunyi, ''Turunlah kalian! Sebagian kalian adalah musuh bagi sebagian yang lain,'' menggunakan kata ganti jamak (kalian). Pengertian ini tidak seharusnya diseret ke arah kata ganti untuk dua orang, seperti dalam firman-Nya, ''Turunlah kalian berdua''.



Orang-orang yang mengatakan surga Adam adalah Surga Khuldi berpendapat bahwa kata ''al-Jannah'' (surga) dilafazkan dalam bentuk kata definitif (tertentu/ma'rifah) dengan huruf alif dan laam (al) di semua tempat, sebagaimana firman-Nya, ''Tinggallah kamu dan istrimu di dalam surga (al-Jannah).'' (QS. Al-Baqarah: 35). Tak ada surga yang dijanjikan dan dikenal kecuali Surga Khuldi yang di janjikan oleh Allah s.w.t untuk hamba-hamba-Nya, meskipun masih dalam keadaan gaib. Kata benda itu (Jannah) telah menjadi nama diri surga, sebagaiman kata al-Madinah (kota Madinah), Al-Bait (Ka'bah), al-Kitab (al-Qur'an) dan lain sebagainya.

Sejauh kata al-Jannah disebut secara ma'rifah (dengan awalan huruf al), maka kata itu langsung diasosiasikan kepada surga yang telah dijanjikan dan diketahui oleh hati orang-orang yang beriman.

Jika Jannah digunakan menyebutkan hal-hal selain surga, biasanya kata itu disebut sejarah nakirah (tidak menentu) atau dibatasi dengan idzafah (frasa), atau dibatasi dengan konteks yang menunjukkan bahwa kata itu menunjuk pada taman di dunia.

Yang pertama, semisal firman Allah s.w.t, ''Dua kebun anggur (jannatain), ''Ma Sya'Allaah, Laa quwwata illaa billaah'' (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah).'' (QS. Al-Kahfi: 39). Yang ketiga, seperti firman Allah s.w.t ''Sesungguhnya Kami telah mencoba mereka (musyrikin Mekah) sebagaimana Kami telah mencobai pemilik-pemilik kebun (Jannah), ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh akan memetik (hasil)nya di pagi hari.'' (QS. Al-Qalam: 17).



Yang membuktikan bahwa surga yang ditempati Adam itu surga Ma'wa, adalah riwayat Hudzah ibn Khalifah dari Auf dari Qasamah ibn Zuhair dari Abu Musa al-Asy'ari yang berkata, ''Ketika mengeluarkan Adam dari Surga, Allah s.w.t membekalinya dengan buah-buahan surga. Allah mengajarinya membuat segala sesuatu. Dan buah-buahan kalian ini berasal dari Surga. Bedanya, buah-buahan surga tidak berubah, sedangkan buah-buahan dunia berubah.''

Allah s.w.t. menjamin Adam bahwa jika dia bertobat, maka Allah s.w.t akan mengembalikannya ke surga. Hal itu seperti diriwayatkan oleh Minhal dari Sa'id ibn Jubair dari Ibnu Abbas yang mengomentari firman Allah berikut ini, ''Maka Adam mendapatkan kalimat dari Tuhannya, maka dia bertobat kepada Allah.'' (QS. Al-Baqarah: 37). Adam berkata, ''Ya Allah! Bukankah Engkau menciptakanku dengan tangan-Mu.'' Allah s.w.t menjawab, ''Ya.'' Adam bertanya, ''Ya Allah! Bukankah Engkau yang meniupkan ruh-Mu! Ke dalam diriku?'' Allah s.w.t menjawab, ''Betul.'' Adam berkata, ''Bukankah Engkau telah menempatkanku di surga?'' Allah menjawab, ''Ya.'' Adam bertanya, ''Ya Allah! Bukankah kasih sayang-Mu mendahului murka-Mu?'' Allah menjawab, ''Betul.'' Adam bertanya, ''Bukankah Engkau menentukan bahwa jika aku bertobat dan memperbaiki diri, maka Engkau akan mengembalikanku ke surga?'' Allah s.w.t menjawab, ''Ya''

Ibnu Abbas meriwayatkan, ''Adam mengatakan kepada Tuhannya ketika Adam bermaksiat kepada-Nya. ''Ya Allah! aku telah bertobat dan memperbaiki diri.'' Allah s.w.t ''Aku akan mengembalikanmu ke surga.''

Itu sebagian argumen orang-orang yang berpendapat bahwa surga yang ditempati Adam adalah Surga Khuldi.

Recent Post

Tags Postingan


Rating Artikel Ini

Kolom Komentar


Walhamdulillahi Rabbil'alamin

Surga Yang di Tempati Adam : Surga Khuldi Ataukah Taman di Bumi


Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh



Asyhadu an-laa ilaaha illallaah Wa asyhadu anna Muhammadan rasuulullaah

Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah rasul (utusan) Allah.

Silahkan Membaca dan Menyimak



ROAD TO HEAVEN - JALAN KE SURGA - Mundzir ibn Said (24) menyebutkan beberapa pendapat tentang firman Allah s.w.t kepada Adam, ''Hai Adam, diamilah oleh kamu dan istrimu surga ini.'' QS. Al-Baqarah: 35

Pendapa pertama menyatakan, bahwa Allah menempatkan Adam di Surga Khuldi, surga yang akan ditempati orang-orang beriman pada Hari Kiamat. Pendapat kedua menyatakan, surga yang ditempati Adam dan istrinya bukan di Surga Khuldi, melainkan tempat lain yang diciptakan Allah untuk menempatkan Adam disana.

Mundzir ibn Sa'id berkomentar, bahwa pendapat terakhir punya banyak dalil yang membenarkannya.



Abu Hasan al-Mawardi (25) dalam tafsirnya menyebutkan, bahwa pendapat tentang surga yang ditempati Adam terpecah menjadi dua: Pertama, surga tersebut adalah Surga Khuldi. Kedua, surga tersebut adalah surga yang disediakan Allah untuk Adam dan istrinya sebagai tempat pengujian. Itu bukan Surga Khuldi yang dijadikan sebagai tempat pengganjaran.

Para penganut pendapat kedua sendiri terpecah menjadi dua pandangan. Pertama, dikemukakan oleh Hasan, bahwa surga Adam tersebut berada di langit, sebab Allah sudah menyatakan telah menurunkan Adam dan istrinya dari surga itu.

Kedua, dikemukakan oleh Ibnu Bahar, bahwa surga tersebut di Bumi. Sebab, Allah menguji mereka dengan melarang mendekati sebuah pohon, tapi tidak melarang mendekati yang lainnya. Hal itu terjadi setelah Allah memerintahkan Iblis sujud kepada Adam a.s. Allah lebih mengetahui kebenaran tentang hal itu.

Ibnu Khathib (26) mengatakan, bahwa ada perbedaan pendapat tentang surga yang disebutkan oleh ayat 35 surah Al-Baqarah tersebut. Apakah surga Adam itu ada di langit ataukah di Bumi? Jika surga Adam itu ada di langit, apakah ia surga yang dijadikan sebagai tempat ganjaran yang bersifat kekal ataukah surga yang lainnya?

Abu Qasim al-Balkhi dan Abu Muslim al-Ashbahani berpendapat, bahwa surga tersebut berada di bumi. Kata ''ihbithuu'' (turun) yang ada pada ayat itu berarti perpindahan dari satu tempat ke tempat lain, sebagaimana firman-Nya, ''Ihbithuu Mishran'' (Tempattilah Mesir atau sebuah kota) pada ayat 61 surah Al-Baqarah. Mereka berdua pun berdalil dengan berbagai argumen.

Pendapat kedua dilontarkan oleh al-Juba'i (27) bahwa surga berada di langit ketujuh.

Pendapat ketiga dinyatakan oleh mayoritas sahabat kami, bahwa surga tersebut adalah surga tempat pengganjaran amal.

Abu Qasim ar-Raghib (28) berkata dalam tafsirnya, bahwa orang-orang berbeda pendapat tentang surga yang ditempati Adam. Ada yang berpendapat, bahwa surga itu adalah taman yang diciptakan Allah untuk menguji Adam. Itu bukan Surga Ma'wa (surga akhirat). Abu Qasim ar-Raghib mengajukan berbagai argumentasi.

Penafsir lain yang membahas tentang perbedaan tersebut adalah Abu Isa ar-Rummani. (29) Dia berpendapat surga tersebut adalah Surga Khuldi. Dia katakan bahwa perspektif yang dipilihnya ini didasarkan pada pernyataan Hasan, Amru, Washil dan sahabat-sahabatnya. Itu perkataan Abu Ali, Abu Bakar dan para pakar tafsir al-Qur'an.

Ibnu Khathib tak berpendapat soal ini. Dia memunculkan pendapat keempat, yaitu semua pendapat tersebut mungkin benar. Namun, dalil-dalilnya saling bertentangan. Jadi, sebaiknya kita diam saja, tak perlu mengambil sikap.



Mundzir ibn Sa'id berkata, bahwa pendapat yang menyebutkan surga Adam berada di bumi, bukan Surga Khuldi berdasarkan pendapat Abu Hanifah dan kawan-kawan. Mundzir menuturkan, bahwa ia telah menemui sejumlah ahli fikih Irak yang sependapat dengan Abu Hanifah, bahwa surga yang ditempati Adam bukan Surga Khuldi. Orang-orang yang berpendapat demikian adalah orang-orang yang dipercaya kualitas keilmuannya.

Mundzir berpendapat sedemikian rupa bukan untuk membela pendapat Abu Hanifah, melainkan membela pendapat yang berdasarkan dalil al-Qur'an dan Sunnah.

Ibnu Qutaibah (30) menyebutkan di dalam kitab al-Ma'aarif bahwa setelah menciptakan Adam dan istrinya, Allah membiarkan mereka berdua untuk makan buah-buahan sebanyak-banyaknya, memenuhi bumi, menguasai laut, burung, hewan, tumbuhan, pepohonan, dan buah-buahan. Lantas Allah s.w.t memberitahukannya bahwa di dunia terdapat makhluk-Nya. Disana juga terdapat perintah-Nya. Lalu Allah menciptakan sungai surga dan membaginya menjadi empat cabang, yaitu Saihun, Jaihun, Dajlah dan Furat.

Setelah itu, Ibnu Qutaibah menyebutkan tentang ular. Hewan melata darat yang paling besar itu membujuk istri Adam, ''Kalian berdua tidak akan mati jika kalian memakan dari pohon ini.''

Kemudian mereka diturunkan dari Surga Adn sebelah timur bumi, tempat mereka berasal.

Wahab menuturkan, bahwa tempat turunnya Adam dari surga adalah bagian timur India. Qabil membawa saudaranya ke oase Yaman, yang terletak di sebelah timur Eden, tempat dimana Qabil mengubur saudaranya. (31)

Yang lain berpendapat dengan nukilan pendapat Abu Shalih dari Ibnu Abbas tentang kalimat ''Ihbithuu'' (turunlah). Kata tersebut mengandung arti: Turunlah fulan dari tempat ini

Wahab ibn Munabbih menyampaikan, bahwa Adam diciptakan di dunia. Disanalah tempat tinggalnya. Disana namanya dikaitkan dengan Surga Firdaus. Adam pun menempati Surga Adn. Ada empat sungai yang berpusat pada sungai yang disebut dengan Firdaus Adam. Sungai-sungai itu tetap ada di dunia. Tak ada perbedaan pendapat tentang hal itu.''

Adapun ular (hayyatun) yang dapat berbicara dengan Adam adalah hewan darat yang besar. Mundzir tidak menyebutkan ular itu hewan langit. Mereka berpendapat, surga Adam tak terdapat di bumi, melainkan di langit ke tujuh.

Mundzir berkata, bahwa Adam dikeluarkan dari sebelah timur Surga Eden, bukan dari Surga Ma'wa, baik yang sebelah timur atau sebelah barat. Sebab, tidak ada matahari disana.

Menurut Mundzir lagi, bahwa Allah mengeluarkan Adam ke bumi, tempat pertama kali mereka diambil. Artinya, Allah mengeluarkannya dari Surga Firdaus, lantas menempatkannya di Eden, bagian timur India.

Ibnu Qutaibah menceritakan bahwa Eden itu terletak di Yaman. Allah mengeluarkan Adam dari Firdaus ke Eden. Lantas Ibnu Qutaibah mengabarkan bahwa empat sungai yang tadi telah disebut merupakan cabang sungai Firdaus yang ditempati Adam.

Demikianlan pendapat-pendapat tentang surga Adam. Kami akan mengurai argumen masing-masing pihak, dan akan menjelaskan kekuatan dan kelemahannya, insya'allah.

Sumber :
Surga Yang di Tempati Adam : Surga Khuldi Ataukah Taman di Bumi
http://roadtoheaven.mywapblog.com/surga-yang-di-tempati-adam-surga-khuldi.xhtml

Keterangan angka :
menyusul Insya Allah

Artikel Terkait
Tags Postingan


Rating Artikel Ini


Kolom Komentar



Walhamdulillahi Rabbil'alamin