Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Asyhadu an-laa ilaaha illallaah Wa asyhadu anna Muhammadan rasuulullaah
Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah rasul (utusan) Allah.
Silahkan Membaca dan Menyimak
ROAD TO HEAVEN - JALAN KE SURGA Nabi Musa a.s. pernah meminta melihat Allah s.w.t. di dunia. Ketika Allah s.w.t hendak menampakkan diri di gunung, gunung itu pun hancur. Itu pelajaran bahwa Allah s.w.t tidak bisa dilihat di dunia, tapi dapat dilihat di akherat.
Ahlus sunnah tidak mengkafirkan orang yang masih menghadap kiblat (masih shalat), lantaran dosa yang di perbuatnya, seperti zina, mencuri, dan dosa-dosa besar lainnya. Sejauh masih beriman, orang beriman tetap dianggap mukmin meskipun melakukan dosa besar.
Iman menurut ahlus sunnah adalah percaya kepada Allah, para malaikat, dan bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah, sebagaimana disebutkan hadis. Menurut mereka Islam berbeda dari iman.
Mereka percaya, bahwa Allah dapat membolak-balik hati manusia. Mereka percaya dengan syafaat (pertolongan) Rasulullah s.a.w. Syafaat itu diberikan kepada pelaku dosa besar.
Mereka percaya dengan azab kubur. Bahwa telaga itu benar, titian ash-shiraath itu benar, kebangkitan setelah mati itu benar, perhitungan Allah atas amal manusia itu benar, dan berdiri di hadapan Allah s.w.t pada Hari Pembalasan itu pun benar.
Mereka mengakui iman adalah perkataan dan perbuatan yang kadang menguat dan kadang melemah. Mereka percaya bahwa al-Qur'an itu makhluk dan juga bukan makhluk. Mereka percaya dengan al-Asma'ul Husna. Mereka tak menyatakan pelaku dosa besar pasti masuk neraka. Mereka pun tak serta merta mengatakan orang yang bertauhid pasti masuk surga. Manusia dapat masuk surga atau masuk neraka berdasarkan kehendak Allah s.w.t. Kehendak Allah-lah yang menentukan apakah seorang manusia akan disiksa atau diampuni.
Ahlus sunnah percaya, bahwa Allah s.w.t akan mengeluarkan orang-orang yang bertauhid dari neraka. Kepercayaan itu didasarkan pada riwayat-riwayat dari Rasulullah s.a.w. Mereka menentang perdebatan dalam soal agama dan takdir. Mereka lebih memilih untuk merujuk pada riwayat-riwayat yang sahih, yang disampaikan oleh orang-orang terpercaya, dan bersambung kepada Rasulullah s.a.w. Mereka tidak banyak menanyakan bagaimana dan mengapa, karena pertanyaan semacam itu adalah bid'ah.
Mereka berpendapat, Allah s.w.t tidak memerintahkan untuk melakukan keburukan. Sebaliknya, Dia melarang dilakukannya perbuatan buruk, dan memerintahkan kebaikan. Dia tidak rela dengan kemusyrikan, meskipun menghendaki adanya kemusyrikan.
Ahlus sunnah mengakui kebenaran orang-orang Islam terdahulu, terutama para sahabat Nabi. Mereka mengambil keutamaan dari para sahabat, tanpa membicarakan hal-hal buruk yang terjadi di antara sahabat, baik yang kecil maupun yang besar. Ahlus sunnah memuliakan Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali, dan menganggap mereka sebagai para penerus kepemimpinan Nabi al-Khulafa' ar-Rasyidun al-Muhtadun. Ahlus sunnah mengakui keempat khalifah ini sebagai manusia terbaik setelah Rasulullah s.a.w. wafat.
Ahlus sunnah mempercayai hadis dari Rasulullah s.a.w yang berbunyi, ''Sesungguhnya Allah turun ke langit dunia sambil berkata, ''Adakah orang yang beritighfar (memohon ampun pada-Ku)? seperti yang disabdakan oleh Rasulullah s.a.w.
Ahlus sunnah selalu merujuk pada al-Qur'an dan Sunnah, selaras dengan firman Allah s.w.t. ''Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur'an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.'' (Q.S An-Nisaa:59). Mereka hanya mengikuti para ulama salaf sejauh mereka tidak melenceng dari agama Allah.
Mereka menyatakan bahwa Allah s.w.t akan datang di Hari Kiamat, sebagaimana firman-Nya, ''Dan datanglah Tuhanmu, sedang malaikat berbaris-baris.''(Q.S. Al-Fajr: 22) Allah akan mendekati makhluk-Nya sekehendak-Nya, seperti firman-Nya, Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.'' (Q.S. Qaaf: 16).
Mereka mewajibkan jihad terhadap orang-orang musyrik sejak Muhammad s.a.w diutus menjadi rasul hingga pertempuran melawan Dajjal di Akhir Zaman nanti.
Mereka percaya Dajjal akan muncul dan Nabi Isa ibn Maryam akan membunuhnya.
Mereka percaya keberadaan malaikat munkar dan malaikat Nakir, Isra'-Miraj, mimpi, dan doa kepada orang Islam yang telah meninggal dan bersedekah untuk mereka itu sampai pahalanya kepada mereka.
Mereka percaya keberadaan bahwa sihir itu ada di dunia ini. Penyihir itu kafir. Hal itu didasarkan pada firman Allah s.w.t dalam al-Qur'an.
Mereka berpendapat bahwa orang yang masih menghadap kiblat (masih shalat) meskipun buruk perangainya, tetap saja dishalatkan jika mati.
Mereka percaya orang mati karena ajalnya telah sampai, demikian juga yang terbunuh juga karena ajalnya datang.
Rizki, menurut mereka, berasal dari Allah s.w.t baik yang halal maupun yang haram.
Allah s.w.t. Maha Mengetahui segala sesuatu yang dilakukan hamba-Nya. Allah telah menetapkan semua yang akan terjadi. Segala sesuatu berada di bawah kekuasaan Allah.
Mereka menganjurkan kita untuk bersabar menghadapi hukum Allah s.w.t., menjalankan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, bertindak ikhlas untuk-Nya, memberi nasihat kepada orang-orang beriman, beribadah kepada Allah, menjauhi dosa-dosa besar, zina, perkataan kotor, maksiat, tindakan buruk, dan sombong di hadapan manusia.
Mereka menganjurkan kita menjauhi orang yang menyeru bid'ah. Mereka mendorong kita menyibukkan diri dengan bacaan al-Qur'an, catatan sejarah Nabi dan para sahabat, berfikih secara rendah hati, dan berjuang menegakkan kebaikan. Mereka meminta kita menghindari menyakiti diri dan orang lain, meninggalkan gunjingan dan fitnahan, serta menghindari pemubaziran makanan dan minuman.
Itu beberapa perintah mereka, tindakan mereka, dan pandangan mereka. Terkait dengan semua pendapat mereka itu, kami sepakat. Hanya Tuhanlah yang memberi kami petunjuk. Bagi kami nikmat dan pertolongan-Nya itu cukup. Kepada-Nya kami memohon pertolongan dan berserah diri. Kepada-Nya pula kami kelak akan kembali.
Penjabaran tentang ahlus sunnah dan ahlulbait hadis disini dimaksudkan untuk memastikan bahwa surga dan neraka itu telah diciptakan. Kami sengaja membahas panjang lebar tentang mereka karena kitab ini mengidentifikasi orang-orang berhak mendapatkan kabar gembira tentang surga. Sebab, kalangan ahlus sunnah dan ahlulbait hadis itulah calon-calon penghuni surga. Semoga Allah s.w.t memberikan petunjuk kepada kita.
Allah s.w.t. telah memberi petunjuk tentang hal itu dengan firman-Nya, ''Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain. (yaitu) di Sidratul Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal.'' (Q.S. An-Najm: 13-15). Rasulullah s.a.w telah melihat Sidratul Muntaha. Padanya terdapat surga, seperti yang disebutkan oleh kitab ash-shahihain dari Anas ibn Malik. Di akhir kisah, Rasulullah s.a.w bersabda, Kemudian aku dan Jibril berjalan sampai Sidratul Muntaha yang diselubungi warna-warna yang tak kuketahui. Lantas aku masuk ke dalam surga. Di dalamnya ada kubah yang terbuat dari mutiara. Tanahnya beraroma misik.''
Ash-shahihaini menyebutkan hadis Abdullah ibn Umar bahwa Rasulullah s.a.w bersabda, ''Jika salah seorang dari kalian wafat, maka dia akan disodori tempat duduk sejak pagi hingga malam. Jika dia termasuk penghuni surga, maka dia akan dimasukkan ke dalam surga. Jika dia termasuk penghuni neraka, maka dia akan dimasukkan ke dalam neraka. Orang itu di beritahu, ''Ini tempat dudukmu sampai kau dibangkitkan oleh Allah s.w.t pada Hari Kiamat.''
Musnad Ahmad, Shahih Hakim, dan Ibnu Hibban menyebutkan hadis al-Barra' ibn Azib yang mengatakan, ''Kami keluar bersama Rasulullah s.a.w untuk mengiringi jenazah seorang pria anshar. Rasulullah lalu berkhutbah panjang lebar. Di antaranya beliau bersabda, ''Ada panggilan dari atas langit, ''Hamba-Ku itu jujur, maka tidurlah dia di surga, berilah dia pakaian surga, dan bukakan pintu surga baginya.'' Saat itu dia dapat mencium aroma surga.''
Shahih Abi Ayanah al-Isfarayini dan Sunan Abi Dawud menyebutkan hadis panjang dari al-Barra' ibn Azib yang membicarakan tentang pencabutan nyawa, ''Kemudian pintu surga dan pintu neraka dibukakan untuknya. Lantas dia diberitahu, ''Ini tempatmu. Jika kau menentang Allah s.w.t., maka Allah akan mengganti tempatmu itu dengan tempat ini.'' Ketika dia melihat isi surga, dia berkata , ''Ya Allah ! Segerakanlah Kiamat agar aku dapat kembali bersama keluarga dan hartaku.'' Dia diberitahu, ''Tinggalah disini terlebih dahulu.''
Musnad Al-Bazzar dan yang lainnya menyebutkan hadis Abu Sa'id al-Khudri yang berkata, ''Kami dan Rasulullah s.a.w. menyaksikan jenazah. Lantas Rasulullah s.a.w. Bersabda, ''Wahai manusia ! Sesungguhnya umat ini akan diberi cobaan di dalam kubur. Saat orang mati telah dikuburkan, dam rekan-rekannya meninggalkannya, dia akan didatangi oleh malaikat yang membawa palu dan mendudukkannya sembari berkata, ''Apa yang kau katakan tentang lelaki ini?'' Yang dimaksud adalah Rasulullah s.a.w. Jika orang mukmin, maka dia akan mengatakan, ''Aku bersaksi, tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusan Allah.'' Maka Malaikat pun berkata kepadanya, '' Kau benar.'' Kemudian pintu neraka dibukakan untuknya. Malaikat itu berkata, '' Ini tempatmu jika kau mengingkari Allah s.w.t. Jika kau mengimaninya, maka itu tempatmu.'' Maka, pintu surga dibukakan untuknya. Orang itu pun ingin memasukinya, namun para malaikat mengatakan, '' Tinggallah dulu kau di dalam kubur.''
Rating Artikel Ini
Kolom Komentar
Walhamdulillahi Rabbil'alamin







0 komentar:
Posting Komentar