Tampilkan postingan dengan label debat surga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label debat surga. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 November 2013

Sanggahan Terhadap Pihak Yang Mengatakan Surga Adam di Langit


Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh




Asyhadu an-laa ilaaha illallaah Wa asyhadu anna Muhammadan rasuulullaah

Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah rasul (utusan) Allah.


Silahkan Membaca dan Menyimak


Orang-orang yang mengatakan surga Adam di langit mengatakan bahwa pendapat mereka ini berlandaskan pada sesuatu yang di fitrahkan oleh Allah s.w.t kepada hamba-Nya, yang hanya di ketahui oleh-Nya.

Jika persoalan itu merupakan kabar dari langit, maka kabar itu hanya dapat diketahui melalui para rasul. Kita dapat mengetahuinya dari Al-Qur'an, bukan dari akal atau fitrah.

Orang-orang yang mengatakan surga Adam di langit menyatakan berdalil dengan Al-Qur'an dan Sunnah. Namun, coba carilah satu orang sahabat, tabi'in atau sebuah atsar yang sahih atau hasan, yang menerangkan bahwa surga Adam adalah Surga Khuldi yang dijanjikan oleh Allah untuk orang-orang bertakwa di Hari Kiamat nanti. Mereka pasti tidak akan mendapatkannya. Sebaliknya, pendapat para pendahulu justru menentang pendapat bahwa surga Adam adalah Surga Khuldi.

Dalam kisah Adam, surga tidak disebut sebagai sesuatu yang mutlak. Namanya saja yang sama dengan surga yang ditempati orang beriman nanti di akherat kelak.

Jika yang dimaksud dengan fitrah adalah sesuatu yang ditakdirkan Allah, maka dalilmu lemah. Jika yang dimaksud adalah bahwa Allah s.w.t memfitrahkan makhluk sedemikian rupa, sebagaimana Allah memfitrahkan baik dan buruk, adil dan zalim, dan lain sebagainya, maka klaimmu batal. Sebab, jika kita kembali ke fitrah kita, kita tidak serta-merta mendapatkan pengetahuan tentang surga Adam terletak di bumi, sebagaimana kita mengetahui kewajiban sesuatu yang wajib dan kemustahilan suatu mustahil.

Mengenai dalil hadis Abu Hurairah r.a. tentang perkataan Adam, ''Bukankah kalian dikeluarkan dari surga lantaran kesalahan bapak kalian ?'', menunjukkan ketidaksanggupan Adam untuk membantu membukakan pintu surga, karena telah melakukan kesalahan di dunia yang mengakibatkannya keluar dari surga.

Perkataan terakhir Adam berbunyi, ''Aku dilarang memakan buah satu pohon, namun aku memakannya.'' Dimanakah sisi dari hadis ini yang menunjukkan bahwa surga Adam adalah Surga Khuldi?

Juga ketika Musa a.s berkata kepada Adam a.s., ''Engkau telah mengeluarkan kami dan dirimu sendiri dari Surga.'' Di sini, Musa a.s tidak mengatakan, ''Engkau telah mengeluarkan kami dari Surga Khuldi.''

Ada yang mengatakan mereka keluar dari kebun serupa surga, yang terletak di bumi. Kebun itu dinamai surga. Hubungan antara kebun itu dengan surga Adam hanya diketahui oleh Allah s.w.t. Posisi keduanya di bumi masih memungkinkan perbedaan keduanya dalam banyak hal.

Orang-orang yang percaya bahwa surga Adam di langit berdalil dengan firman Allah s.w.t., ''Kami katakan, ''Turunlah kalian!'''' (QS. Al-Baqarah: 32), yang dikatakan saat Adam dan Hawa keluar dari Surga.

Kami katakan, bahwa kata hubuuth (turun) tak mengharuskan turun dari langit ke bumi. Tujuan penggunaan kata itu adalah untuk menunjukkan tindakan turun dari atas ke bawah. Sangatlah mungkin bila surga berada di dataran tinggi bumi, lalu Adam diminta turun ke permukaan bumi yang lebih rendah.

Perintah turun itu ditujukan untuk Adam, Hawa dan Iblis. Jika yang dimaksud turun adalah turun dari langit, maka Iblis tidak mungkin melakukan itu setelah dia diturunkan pertama kali, lantaran menolak sujud kepada Adam. Ayat itu menerapkan argumen yang paling jelas, yang tak perlu susah-payah untuk dijelaskan lagi.

Bumi adalah nama jenis. Mereka berada di tempat yang paling tinggi, paling enak dan paling utama. Di tempat yang tak mungkin menjadikan kita lapar dan kekurangan.

Perintah untuk turun dari situ meninggalkan semua hal tersebut. Di tempat baru itulah mereka hidup, mati dan dikeluarkan dari kuburan. Surga tempat tinggal mereka bukanlah tempat susah-payah, capek dan kerja keras, sakit dan semua hal yang menjengkelkan.

Orang yang percaya surga Adam adalah Surga Khuldi mengatakan bahwa Allah s.w.t menggambarkan ciri-ciri surga itu tidak seperti yang ada di bumi. Jawaban kami, sifat-sifat itu memang tidak terdapat di bumi tempat mereka diturunkan.

Mereka berkata, jika Adam tahu bahwa dunia itu fana, dan seandainya dia berada di surga yang sesungguhnya, maka Adam pasti tahu kebohongan Iblis yang mengatakan, ''Maukah kau kuberitahu tentang pohon khuldi.'' (QS. Thaahaa:120).

Jawaban kami atas persoalan itu ada dua:

Pertama, lafaz itu menunjukkan kepada kekekalan, yang lebih umum dari teru-menerus, tanpa keterputusan sama sekali.

Secara etimologis, ''khuldi'' berarti tinggal dalam waktu yang lama. Misalnya, kalimat rajulun mukhallid, untuk menyebut lelaki tua. Contoh lainnya, kata asaafish shukhur untuk menyebut orang-orang yang belajar dalam waktu lama.

Sinonim kata ''khuldi'' adalah sesuatu yang lama, meski punya permulaan, seperti firman Allah s.w.t, ''Sebagai bentuk tandan yang tua.'' (QS. Yaasiin: 39); ''Sungguh engkau tetap dalam kesesatanmu yang lama.'' (QS. Yusuf: 95); dan ''Ini adalah dusta yang lama.'' (QS. Al-Ahqaaf: 11). Allah telah memastikan keabadian di neraka sebagai azab bagi sejumlah pelaku maksiat, seperti pembunuh. Dan Rasulullah s.a.w menetapkan keabadian di neraka bagi orang bunuh diri. (36)

Kedua, pengetahuan tentang berakhirnya dunia dan hadirnya akhirat hanya didapat dari wahyu. Sementara Adam belum mendapatkan wahyu semacam itu. Allah s.w.t mengutus Adam sebagai nabi, memberikan wahyu dan suhuf setelah diturunkan di bumi. Hal itu sebagaimana disebutkan oleh hadis riwayat Abu Dzar(37), dan disebutkan oleh firman Allah s.w.t, ''Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa mengikuti petunjuk-KU, ia tidak akan sesat dan ia tidak akan celaka.'' (QS. Thaahaa:123).

Kata ''al-Jannah'' dalam bentuk ma'rifah tak dimaksudkan untuk menunjuk Surga Khuldi, sebagaimana firman Allah s.w.t, ''Sesungguhnya Kami telah mencobai mereka (musyrikin Mekah) sebagaimana Kami telah mencobai pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh akan memetik (hasil)nya di pagi hari.'' (QS. Al-Qalam: 17).

Jika anda mengatakan bahwa itu menunjukkan jannah (kebun/surga) di bumi, maka kami katakan bahwa surga Adam di bumi. Kami memastikan hal itu, karena kita tidak boleh untuk mengabaikan dalil yang sahih.

Jika anda berdalil dengan atsar dari Abu Musa bahwa Allah s.w.t mengeluarkan Adam dari surga dan membekalinya dengan buah-buahan surga, maka kami katakan bahwa atsar itu tidak menambah petunjuk Al-Qur'an. Atsar itu tidak serta-merta menunjukkan bahwa surga Adam adalah Surga Khuldi.

Jika anda mengatakan bahwa ini berubah, sedangkan itu tidak berubah, maka kami bertanya, dari mana landasan Anda mengatakan bahwa di surga yang di tempati Adam terjadi perubahan pada buah-buahannya. Telah ditetapkan di hadis sahih bahwa Rasulullah s.a.w bersabda, ''Seandainya bukan karena Bani Israel niscaya daging tidak akan berubah dan busuk.'' (38)

Jika anda katakan bahwa Allah s.w.t telah menjamin Adam a.s. bahwa jika dia bertobat, maka dia akan dikembalikan ke surga, maka tidak dimungkiri bahwa persoalannya memang semacam itu. Namun jaminan itu tidak terkait dengan kembalinya Adam a.s. ke ''surga'' yang dulu itu, melainkan ke Surga Khuldi. Allah s.w.t selalu menepati janji-Nya.

Lafaz 'ada (kembali) persis ke kondisi pertama, baik waktu maupun tempatnya, bahkan tidak pula harus yang serupa dengannya. Hal itu sebagaimana yang dikatakan Nabi Syuaib a.s. kepada kaumnya, ''Sungguh kami telah mengada-ngadakan kebohongan yang besar terhadap Allah, jika kami kembali kepada agamamu, sesudah Allah melepaskan kami daripadanya. Dan tidaklah patut kami kembali kepadanya, kecuali jika Allah, Tuhan kami menghendaki(nya). Pengetahuan Tuhan kami meliputi segala sesuatu. Kepada Allah sajalah kami bertawakkal. Ya Tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil) dan Engkaulah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya.'' (QS. Al-A'raaf: 89).

Demikianlah sanggahan pihak yang mengatakan surga Adam bukan Surga Khuldi terhadap pihak yang berseberangan dengannya.


Keterangan Nomer:

36. Hadis itu dikeluarkan oleh Bukhari (5778) dan Muslim (109) dari hadis Abu Hurairah R.A. Bahwa Rasulullah s.a.w bersabda, ''Orang yang terjun dari gunung untuk bunuh diri akan berada di neraka Jahanam selamanya. Orang yang mengonsumsi racun untuk bunuh diri akan berada di neraka Jahanam selamanya. Orang yang bunuh diri dengan menusukkan besi ke perutnya akan berada di neraka selamanya.''

37. Hadis panjang yang dikeluarkan oleh Abu Naim di Al-Hulliyah 1/166-168. Baihaqi 9/4. Ibnu Hibban, Mawaarid, (94). Ath-Thabrani, Al-Kabiir Mukhtashar (1651). Sanadnya lemah. Lihat, Takriij Mawaariduzh Zham'aan, 1/196-198 karya Ustad Husain Salim Asad ad-Darami.

38. Al-BUKHARI (3330). Muslim (1470). Hadis itu berasal dari riwayat Abu Hurairah R.A.

Artikel Terkait



Rating Artikel Ini


Kolom Komentar


Walhamdulillahi Rabbil'alamin

Argumen Yang Mengatakan Surga Adam Adalah Surga Khuldi Bagian 2




Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh




Asyhadu an-laa ilaaha illallaah Wa asyhadu anna Muhammadan rasuulullaah

Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah rasul (utusan) Allah.

Silahkan Membaca dan Menyimak


ROAD TO HEAVEN - JALAN KE SURGA- Itu adalah pendapat yang lemah tentang ayat di atas. Permusuhan yang disebut ayat tersebut adalah permusuhan yang terjadi antara Adam, Iblis dan keturunannya, sebagaimana firman-Nya, ''Sesungguhnya setan adalah musuh kalian. Maka jadikanlah dia musuh.'' (QS. Faathir: 6). Allah s.w.t telah menyebutkan permusuhan antara setan dan manusia. Allah mengabarkan hal itu secara berulang-ulang di dalam al-Qur'an karena pentingnya kewaspadaan dalam permusuhan itu.

Adapun mengenai Adam dan istrinya, Allah telah mengabarkan di dalam Kitab Suci-Nya, bahwa dia diciptakan untuk menempati surga. Allah ciptakan cinta dan kasih sayang antara mereka berdua.

Jadi, cinta kasih itu terjadi antara laki-laki dan perempuan. Adapun permusuhan itu terjadi antara manusia dan setan.

Mengenai firman Allah s.w.t yang berbunyi, ''Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh sebagian yang lain.'' (QS. Thaahaa:123), ditujukan kepada Adam dan Hawa. Sebagian dari mereka bisa menjadi musuh bagi yang lain.

Kata ganti ''Kamu berdua'' bisa merujuk pada Adam dan istrinya, bisa juga merujuk pada Adam dan Iblis. Istri Adam tidak disebut karena mengikuti suami. Jika demikian halnya, maka permusuhan yang disebut terjadi antara orang-orang yang diturunkan adalah permusuhan antara Adam dan Iblis.

Jika kata ganti itu dirujukkan pada Adam dan istrinya, maka ayat itu mengandung dua makna. Pertama, Allah menyuruh Adam dan istrinya untuk turun. Kedua, Allah memberi tahu tentang permusuhan yang terjadi antara Adam dan istrinya melawan Iblis. Karena itu, kata ganti jamak disebutkan di bagian kedua (sebagian dari kalian), bukan di bagian pertama (kalian berdua).

Jadi, Iblis masuk dalam permusuhan yang disebutkan itu, sebagaimana firman-Nya, ''Ini adalah musuh bagimu dan istrimu.'' (QS. Thaahaa: 117). Allah s.w.t pun berfirman pada keturunan Adam, ''Sesungguhnya setan adalah musuh kalian. Maka jadikanlah dia musuh.'' (QS. Faathir: 6).

Coba perhatikan bagaimana kata permusuhan dikaitkan dengan kata ganti jamak (tiga orang atau lebih), bukan dengan kata ganti untuk dua orang (tatsniyyah). Kata ''turun'' kadang dikaitkan dengan kata ganti tunggal.

Kata ''turun'' yang diiringi kata ganti tunggal misalnya firman Allah s.w.t di dalam surah Al-Araaf: ''Turunlah dari surga.'' Contoh lainnya surah Shaad yang menyebutkan kata turun untuk Iblis semata.

Adapun kata ''turun'' yang diiringi dengan kata ganti jamak merujuk pada Adam, istrinya dan Iblis. Sebab, mereka bertigalah yang menjadi fokus cerita.

Sedangkan kata turun yang diiringi kata ganti jamak untuk dua orang, terkadang merujuk pada Adam dan istrinya - karena keduanya memakan buah pohon surga dan melakukan maksiat - atau merujuk pada Adam dan Iblis - karena keduanya pihak-pihak yang menanggung beban tanggung jawab. Kondisi permusuhan Adam dan Iblis itu ditunjukkan untuk menjadi pedoman, nasihat, dan pelajaran bagi keturunan Adam. Jadi, ada dua pendapat tentang kata ganti untuk dua orang dalam kata ''ihbithaa''.

Yang menjelaskan bahwa kata ganti tersebut untuk Adam dan Iblis adalah bahwa Allah s.w.t saat menyebut maksiat hanya menyebut Adam tanpa istrinya. Allah s.w.t berfirman, ''Durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia. Kemudian Tuhannya memilihnya maka Dia menerima tobatnya dan memberinya petunjuk. Allah berfirman, ''Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama.'' (QS. Thaahaa: 121-123). Ayat itu menunjukkan bahwa yang diminta untuk turun adalah Adam, karena dialah yang telah melakukan maksiat, sedangkan istrinya masuk sebagai pengikut.

Allah s.w.t telah mengabarkan bahwa istri Adam turut serta memakan buah terlarang itu bersama Adam. Bahwa Adam diturunkan dan dikeluarkan dari surga karena dia memakannya. Maka diketahui bahwa hukum yang diterapkan pada sang istri juga semacam itu. Dia mengalami apa yang dialami Adam.

Secara keseluruhan, firman Allah s.w.t yang berbunyi, ''Turunlah kalian! Sebagian kalian adalah musuh bagi sebagian yang lain,'' menggunakan kata ganti jamak (kalian). Pengertian ini tidak seharusnya diseret ke arah kata ganti untuk dua orang, seperti dalam firman-Nya, ''Turunlah kalian berdua''.



Orang-orang yang mengatakan surga Adam adalah Surga Khuldi berpendapat bahwa kata ''al-Jannah'' (surga) dilafazkan dalam bentuk kata definitif (tertentu/ma'rifah) dengan huruf alif dan laam (al) di semua tempat, sebagaimana firman-Nya, ''Tinggallah kamu dan istrimu di dalam surga (al-Jannah).'' (QS. Al-Baqarah: 35). Tak ada surga yang dijanjikan dan dikenal kecuali Surga Khuldi yang di janjikan oleh Allah s.w.t untuk hamba-hamba-Nya, meskipun masih dalam keadaan gaib. Kata benda itu (Jannah) telah menjadi nama diri surga, sebagaiman kata al-Madinah (kota Madinah), Al-Bait (Ka'bah), al-Kitab (al-Qur'an) dan lain sebagainya.

Sejauh kata al-Jannah disebut secara ma'rifah (dengan awalan huruf al), maka kata itu langsung diasosiasikan kepada surga yang telah dijanjikan dan diketahui oleh hati orang-orang yang beriman.

Jika Jannah digunakan menyebutkan hal-hal selain surga, biasanya kata itu disebut sejarah nakirah (tidak menentu) atau dibatasi dengan idzafah (frasa), atau dibatasi dengan konteks yang menunjukkan bahwa kata itu menunjuk pada taman di dunia.

Yang pertama, semisal firman Allah s.w.t, ''Dua kebun anggur (jannatain), ''Ma Sya'Allaah, Laa quwwata illaa billaah'' (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah).'' (QS. Al-Kahfi: 39). Yang ketiga, seperti firman Allah s.w.t ''Sesungguhnya Kami telah mencoba mereka (musyrikin Mekah) sebagaimana Kami telah mencobai pemilik-pemilik kebun (Jannah), ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh akan memetik (hasil)nya di pagi hari.'' (QS. Al-Qalam: 17).



Yang membuktikan bahwa surga yang ditempati Adam itu surga Ma'wa, adalah riwayat Hudzah ibn Khalifah dari Auf dari Qasamah ibn Zuhair dari Abu Musa al-Asy'ari yang berkata, ''Ketika mengeluarkan Adam dari Surga, Allah s.w.t membekalinya dengan buah-buahan surga. Allah mengajarinya membuat segala sesuatu. Dan buah-buahan kalian ini berasal dari Surga. Bedanya, buah-buahan surga tidak berubah, sedangkan buah-buahan dunia berubah.''

Allah s.w.t. menjamin Adam bahwa jika dia bertobat, maka Allah s.w.t akan mengembalikannya ke surga. Hal itu seperti diriwayatkan oleh Minhal dari Sa'id ibn Jubair dari Ibnu Abbas yang mengomentari firman Allah berikut ini, ''Maka Adam mendapatkan kalimat dari Tuhannya, maka dia bertobat kepada Allah.'' (QS. Al-Baqarah: 37). Adam berkata, ''Ya Allah! Bukankah Engkau menciptakanku dengan tangan-Mu.'' Allah s.w.t menjawab, ''Ya.'' Adam bertanya, ''Ya Allah! Bukankah Engkau yang meniupkan ruh-Mu! Ke dalam diriku?'' Allah s.w.t menjawab, ''Betul.'' Adam berkata, ''Bukankah Engkau telah menempatkanku di surga?'' Allah menjawab, ''Ya.'' Adam bertanya, ''Ya Allah! Bukankah kasih sayang-Mu mendahului murka-Mu?'' Allah menjawab, ''Betul.'' Adam bertanya, ''Bukankah Engkau menentukan bahwa jika aku bertobat dan memperbaiki diri, maka Engkau akan mengembalikanku ke surga?'' Allah s.w.t menjawab, ''Ya''

Ibnu Abbas meriwayatkan, ''Adam mengatakan kepada Tuhannya ketika Adam bermaksiat kepada-Nya. ''Ya Allah! aku telah bertobat dan memperbaiki diri.'' Allah s.w.t ''Aku akan mengembalikanmu ke surga.''

Itu sebagian argumen orang-orang yang berpendapat bahwa surga yang ditempati Adam adalah Surga Khuldi.

Recent Post

Tags Postingan


Rating Artikel Ini

Kolom Komentar


Walhamdulillahi Rabbil'alamin

Argumen Yang Mengatakan Surga Adam Adalah Surga Khuldi


Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh



Asyhadu an-laa ilaaha illallaah Wa asyhadu anna Muhammadan rasuulullaah

Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah rasul (utusan) Allah.

Silahkan Membaca dan Menyimak




ROAD TO HEAVEN - JALAN KE SURGA - Orang-orang yang mengatakan surga Adam adalah Surga Khuldi mengatakan bahwa perkataannya itu sesuai dengan yang difitrahkan Allah s.w.t pada manusia. Tak ada yang terbersit di hati mereka kecuali pengertian itu.

Muslim telah mencatat di dalam Shahih-nya sebuah hadis riwayat Abu Malik dari Abu Hazim dari Abu Hurairah dan Abu Malik dari Ra'i dari Hudzaifah yang mengatakan bahwa Rasulullah s.a.w bersabda, ''Allah s.w.t mengumpulkan semua umat manusia. Orang-orang beriman berdiri hingga mendekati surga. Mereka mendatangi Adam dan memohon, ''Wahai bapak kami! Bukakanlah pintu surga untuk kami.'' Adam menjawab, ''Bukankah kalian dikeluarkan dari surga karena kesalahan bapak kalian ini?'' (32)

Hadis itu menunjukkan bahwa surga yang darinya Adam dikeluarkan adalah surga yang diminta orang-orang di Hari Kiamat itu untuk dibukakan pintunya.

Ash-Shahihaini telah menyebutkan hadis tentang hadis dialog Adam dan Musa. Musa a.s. berkata, ''Engkau telah mengeluarkan kita semua dan dirimu sendiri dari surga.'' (33) Seandainya surga Adam di dunia, maka mereka berarti telah keluar dari kebun atau taman, bukan dari surga.

Adam a.s. berkata kepada orang-orang beriman di Hari Kiamat, ''Bukankah kalian dikeluarkan dari surga karena kesalahan bapak kalian?'' Kesalahan takkan menyebabkan Adam dikeluarkan dari kebun atau taman dunia.

Allah s.w.t berfirman, ''Dan Kami berfirman, ''Hai Adam, diamilah oleh kamu dan istrimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim. Lalu keduanya digelincirkan oleh setan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman, ''Turunlah kamu! Sebahagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan.'' (Q.S. Al-Baqarah: 35-36)

Ayat itu menunjukkan, bahwa Adam dan istrinya diturunkan dari surga ke bumi. Dalilnya ada dua. Pertama, Lafazh, ''Ihbithuu'' (turunlah kamu). Kata itu berarti turun dari atas ke bawah. Kedua, kalimat ''wa laku fil ardhi mustaqarrun'' (dan bagus kamu tempat kediaman di bumi). Kalimat ini jelas menunjukkan bahwa mereka sebelum itu tidak berada di bumi.

Penguat dalil itu ada di surah al-A'raaf. ''Allah berfirman, ''Di bumi itu kamu hidup dan di bumi itu kamu akan mati, dan dari bumi itu (pula) kamu akan dibangkitkan.'' (Q.S. Al-Araaf: 25). Jika surga Adam ada di Bumi, niscaya ada kehidupan mereka di bumi sebelum dikeluarkan darinya dan setelah dikeluarkan darinya.

Allah s.w.t telah melukiskan surga Adam dengan ciri-ciri yang hanya terdapat pada Surga Khuldim sebagaimana firman-Nya, ''Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang, dan sesungguhnya kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak (pula) akan ditimpa panas matahari di dalamnya". (Q.S. Thaahaa: 18-19). Kondisi itu tidak ada di bumi. Orang yang punya tempat tinggal sangat nyaman sekalipun harus mendatangkan sesuatu untuk merasakan hal tersebut.

Allah memasang-masangkan kata lapar dan telanjang, serta dahaga dan panas. Pasangan kata itu lebih baik daripada pasangan kata lapar dan dahaga, telanjang dan panas terik. Sebab, lapar adalah derita batin, sedangkan telanjang adalah derita lahir. Haus adalah panas batin, sedangkan panas terik matahari adalah panas secara lahir. Kehilangan tempat tinggal semacam itu adalah derita lahir dan batin, panas lahir dan batin. Kondisi nyaman seperti tersebut di atas adalah kondisi Surga Khuldi.

Seandainya surga Adam terletak di dunia, niscaya Adam tahu kebohongan Iblis yang berkata, ''Hai Adam, maukah aku tunjukkan kepadamu ppohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?'' (QS. Thaahaa: 120). Adam tentu tahu bahwa dunia itu fana dan kerajaannya pun akan binasa.

Kisah Adam yang terdapat dalam surah al-Baqarah sangat jelas menunjukkan, bahwa surga yang mana Adam dikeluarkan darinya berada di atas langit. Allah s.w.t. Berfirman, ''Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. Dan Kami berfirman: "Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini. yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim.'' Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: "Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan." Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.'' (Al-Baqarah: 34-37). Adam, Hawa' dan Iblis diturunkan dari surga. Karena itu, kata ganti yang digunakan adalah kata ganti dalam bentuk jamak ''inbithuu'' (turunlah kalian).

Ada yang mengatakan perintah itu untuk Adam, Hawa dan ular. Perkataan itu sangat lemah landasannya. Sebab ular sama sekali tidak disebutkan dalam kisah Adam itu. Di dalam ayat itu pun tidak ada sesuatu pun yang menunjukkan keberadaan ular.

Ada yang berpendapat, bahwa perintah itu ditujukan pada Adam dan Hawa dengan kata ganti jamak. Ini serupa dengan ayat, ''Dan (ingatlah kisah) Daud dan Sulaiman, di waktu keduanya memberikan keputusan mengenai tanaman, karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya. Dan adalah Kami menyaksikan keputusan yang diberikan oleh mereka itu.'' (Al-Anbiyaa: 78). Kata ganti ''mereka (hum)'' menunjuk pada Daud dan Sulaiman, padahal seharusnya untuk menunjuk dua orang, kata ganti yang dipakai adalah ''huma'' (kedua orang itu).

Ada yang berpendapat perintah turun dari surga dengan kata ganti jamak itu untuk Adama, Hawa dan keturunannya. Perkataan ini juga lemah. Tidak ada dalil baginya. Bahkan justru bertentangan dengan lafaz yang ada.

Jadi, jelaslah bahwa perintah itu untuk Adam, Hawa dan Iblis. Iblis termasuk pihak yang harus turun dari surga.

Allah mengulanu perintah keppada mereka untuk turun untuk kedua kalinya dalam ayat, ''Kami berfirman: "Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati". (QS. Al-Baqarah: 38). Secara eksplisit, perintah kedua ini berbeda dari perintah pertama. Perintah kedua adalah perintah turun dari langit ke bumi. Sedangkan perintah pertama adalah perintah turun dari surga. Jadi, surga tempat Adam keluar darinya itu berada di atas langit. Ia adalah Surga Khuldi.

Az-Zamakhsyar menganggap bahwa firman-Nya, ''Turunlah kalian semua darinya.'' adalah khusus untuk Adam dan Hawa. Mereka berdua disebut dengan kata ganti jamak untuk melibatkan seluruh keturunan keduanya. Dalilnya firman Allah s.w.t., ''Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh sebagian yang lain.'' (QS. Thaahaa: 123). Ayat yang selaras dengan itu antara lain, ''Barangsiapa mengikuti perintah-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal didalamnya.'' (QS. Al-Baqarah: 39)

Ayat yang disebut terkahir menunjuk pada seluruh umat manusia. Makna firman-Nya, ''Sebagian kalian menjadi musuh bagi sebagian lain.'' adalah permusuhan, kebencian, penyesatan antara satu orang dengan orang lain.

Keterangan Angka

32. Muslim (195)

33. Al-Bukhari (3409, 4736, 4738, 6614, dan 7515). Musli, (2562). Hadis itu berasal dari Abu Huraiah RA. Untuk keterangan lebih lanjut, baca Jaami'uul Ushuul (7598) dan Musnad Abu Ya'ala (2465).


Artikel Terkait
Tags Postingan



Rating Artikel Ini

Kolom Komentar



Walhamdulillahi Rabbil'alamin