Tampilkan postingan dengan label artikel surga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel surga. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 November 2013

Sanggahan Terhadap Pihak Yang Mengatakan Surga Adam di Langit


Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh




Asyhadu an-laa ilaaha illallaah Wa asyhadu anna Muhammadan rasuulullaah

Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah rasul (utusan) Allah.


Silahkan Membaca dan Menyimak


Orang-orang yang mengatakan surga Adam di langit mengatakan bahwa pendapat mereka ini berlandaskan pada sesuatu yang di fitrahkan oleh Allah s.w.t kepada hamba-Nya, yang hanya di ketahui oleh-Nya.

Jika persoalan itu merupakan kabar dari langit, maka kabar itu hanya dapat diketahui melalui para rasul. Kita dapat mengetahuinya dari Al-Qur'an, bukan dari akal atau fitrah.

Orang-orang yang mengatakan surga Adam di langit menyatakan berdalil dengan Al-Qur'an dan Sunnah. Namun, coba carilah satu orang sahabat, tabi'in atau sebuah atsar yang sahih atau hasan, yang menerangkan bahwa surga Adam adalah Surga Khuldi yang dijanjikan oleh Allah untuk orang-orang bertakwa di Hari Kiamat nanti. Mereka pasti tidak akan mendapatkannya. Sebaliknya, pendapat para pendahulu justru menentang pendapat bahwa surga Adam adalah Surga Khuldi.

Dalam kisah Adam, surga tidak disebut sebagai sesuatu yang mutlak. Namanya saja yang sama dengan surga yang ditempati orang beriman nanti di akherat kelak.

Jika yang dimaksud dengan fitrah adalah sesuatu yang ditakdirkan Allah, maka dalilmu lemah. Jika yang dimaksud adalah bahwa Allah s.w.t memfitrahkan makhluk sedemikian rupa, sebagaimana Allah memfitrahkan baik dan buruk, adil dan zalim, dan lain sebagainya, maka klaimmu batal. Sebab, jika kita kembali ke fitrah kita, kita tidak serta-merta mendapatkan pengetahuan tentang surga Adam terletak di bumi, sebagaimana kita mengetahui kewajiban sesuatu yang wajib dan kemustahilan suatu mustahil.

Mengenai dalil hadis Abu Hurairah r.a. tentang perkataan Adam, ''Bukankah kalian dikeluarkan dari surga lantaran kesalahan bapak kalian ?'', menunjukkan ketidaksanggupan Adam untuk membantu membukakan pintu surga, karena telah melakukan kesalahan di dunia yang mengakibatkannya keluar dari surga.

Perkataan terakhir Adam berbunyi, ''Aku dilarang memakan buah satu pohon, namun aku memakannya.'' Dimanakah sisi dari hadis ini yang menunjukkan bahwa surga Adam adalah Surga Khuldi?

Juga ketika Musa a.s berkata kepada Adam a.s., ''Engkau telah mengeluarkan kami dan dirimu sendiri dari Surga.'' Di sini, Musa a.s tidak mengatakan, ''Engkau telah mengeluarkan kami dari Surga Khuldi.''

Ada yang mengatakan mereka keluar dari kebun serupa surga, yang terletak di bumi. Kebun itu dinamai surga. Hubungan antara kebun itu dengan surga Adam hanya diketahui oleh Allah s.w.t. Posisi keduanya di bumi masih memungkinkan perbedaan keduanya dalam banyak hal.

Orang-orang yang percaya bahwa surga Adam di langit berdalil dengan firman Allah s.w.t., ''Kami katakan, ''Turunlah kalian!'''' (QS. Al-Baqarah: 32), yang dikatakan saat Adam dan Hawa keluar dari Surga.

Kami katakan, bahwa kata hubuuth (turun) tak mengharuskan turun dari langit ke bumi. Tujuan penggunaan kata itu adalah untuk menunjukkan tindakan turun dari atas ke bawah. Sangatlah mungkin bila surga berada di dataran tinggi bumi, lalu Adam diminta turun ke permukaan bumi yang lebih rendah.

Perintah turun itu ditujukan untuk Adam, Hawa dan Iblis. Jika yang dimaksud turun adalah turun dari langit, maka Iblis tidak mungkin melakukan itu setelah dia diturunkan pertama kali, lantaran menolak sujud kepada Adam. Ayat itu menerapkan argumen yang paling jelas, yang tak perlu susah-payah untuk dijelaskan lagi.

Bumi adalah nama jenis. Mereka berada di tempat yang paling tinggi, paling enak dan paling utama. Di tempat yang tak mungkin menjadikan kita lapar dan kekurangan.

Perintah untuk turun dari situ meninggalkan semua hal tersebut. Di tempat baru itulah mereka hidup, mati dan dikeluarkan dari kuburan. Surga tempat tinggal mereka bukanlah tempat susah-payah, capek dan kerja keras, sakit dan semua hal yang menjengkelkan.

Orang yang percaya surga Adam adalah Surga Khuldi mengatakan bahwa Allah s.w.t menggambarkan ciri-ciri surga itu tidak seperti yang ada di bumi. Jawaban kami, sifat-sifat itu memang tidak terdapat di bumi tempat mereka diturunkan.

Mereka berkata, jika Adam tahu bahwa dunia itu fana, dan seandainya dia berada di surga yang sesungguhnya, maka Adam pasti tahu kebohongan Iblis yang mengatakan, ''Maukah kau kuberitahu tentang pohon khuldi.'' (QS. Thaahaa:120).

Jawaban kami atas persoalan itu ada dua:

Pertama, lafaz itu menunjukkan kepada kekekalan, yang lebih umum dari teru-menerus, tanpa keterputusan sama sekali.

Secara etimologis, ''khuldi'' berarti tinggal dalam waktu yang lama. Misalnya, kalimat rajulun mukhallid, untuk menyebut lelaki tua. Contoh lainnya, kata asaafish shukhur untuk menyebut orang-orang yang belajar dalam waktu lama.

Sinonim kata ''khuldi'' adalah sesuatu yang lama, meski punya permulaan, seperti firman Allah s.w.t, ''Sebagai bentuk tandan yang tua.'' (QS. Yaasiin: 39); ''Sungguh engkau tetap dalam kesesatanmu yang lama.'' (QS. Yusuf: 95); dan ''Ini adalah dusta yang lama.'' (QS. Al-Ahqaaf: 11). Allah telah memastikan keabadian di neraka sebagai azab bagi sejumlah pelaku maksiat, seperti pembunuh. Dan Rasulullah s.a.w menetapkan keabadian di neraka bagi orang bunuh diri. (36)

Kedua, pengetahuan tentang berakhirnya dunia dan hadirnya akhirat hanya didapat dari wahyu. Sementara Adam belum mendapatkan wahyu semacam itu. Allah s.w.t mengutus Adam sebagai nabi, memberikan wahyu dan suhuf setelah diturunkan di bumi. Hal itu sebagaimana disebutkan oleh hadis riwayat Abu Dzar(37), dan disebutkan oleh firman Allah s.w.t, ''Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa mengikuti petunjuk-KU, ia tidak akan sesat dan ia tidak akan celaka.'' (QS. Thaahaa:123).

Kata ''al-Jannah'' dalam bentuk ma'rifah tak dimaksudkan untuk menunjuk Surga Khuldi, sebagaimana firman Allah s.w.t, ''Sesungguhnya Kami telah mencobai mereka (musyrikin Mekah) sebagaimana Kami telah mencobai pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh akan memetik (hasil)nya di pagi hari.'' (QS. Al-Qalam: 17).

Jika anda mengatakan bahwa itu menunjukkan jannah (kebun/surga) di bumi, maka kami katakan bahwa surga Adam di bumi. Kami memastikan hal itu, karena kita tidak boleh untuk mengabaikan dalil yang sahih.

Jika anda berdalil dengan atsar dari Abu Musa bahwa Allah s.w.t mengeluarkan Adam dari surga dan membekalinya dengan buah-buahan surga, maka kami katakan bahwa atsar itu tidak menambah petunjuk Al-Qur'an. Atsar itu tidak serta-merta menunjukkan bahwa surga Adam adalah Surga Khuldi.

Jika anda mengatakan bahwa ini berubah, sedangkan itu tidak berubah, maka kami bertanya, dari mana landasan Anda mengatakan bahwa di surga yang di tempati Adam terjadi perubahan pada buah-buahannya. Telah ditetapkan di hadis sahih bahwa Rasulullah s.a.w bersabda, ''Seandainya bukan karena Bani Israel niscaya daging tidak akan berubah dan busuk.'' (38)

Jika anda katakan bahwa Allah s.w.t telah menjamin Adam a.s. bahwa jika dia bertobat, maka dia akan dikembalikan ke surga, maka tidak dimungkiri bahwa persoalannya memang semacam itu. Namun jaminan itu tidak terkait dengan kembalinya Adam a.s. ke ''surga'' yang dulu itu, melainkan ke Surga Khuldi. Allah s.w.t selalu menepati janji-Nya.

Lafaz 'ada (kembali) persis ke kondisi pertama, baik waktu maupun tempatnya, bahkan tidak pula harus yang serupa dengannya. Hal itu sebagaimana yang dikatakan Nabi Syuaib a.s. kepada kaumnya, ''Sungguh kami telah mengada-ngadakan kebohongan yang besar terhadap Allah, jika kami kembali kepada agamamu, sesudah Allah melepaskan kami daripadanya. Dan tidaklah patut kami kembali kepadanya, kecuali jika Allah, Tuhan kami menghendaki(nya). Pengetahuan Tuhan kami meliputi segala sesuatu. Kepada Allah sajalah kami bertawakkal. Ya Tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil) dan Engkaulah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya.'' (QS. Al-A'raaf: 89).

Demikianlah sanggahan pihak yang mengatakan surga Adam bukan Surga Khuldi terhadap pihak yang berseberangan dengannya.


Keterangan Nomer:

36. Hadis itu dikeluarkan oleh Bukhari (5778) dan Muslim (109) dari hadis Abu Hurairah R.A. Bahwa Rasulullah s.a.w bersabda, ''Orang yang terjun dari gunung untuk bunuh diri akan berada di neraka Jahanam selamanya. Orang yang mengonsumsi racun untuk bunuh diri akan berada di neraka Jahanam selamanya. Orang yang bunuh diri dengan menusukkan besi ke perutnya akan berada di neraka selamanya.''

37. Hadis panjang yang dikeluarkan oleh Abu Naim di Al-Hulliyah 1/166-168. Baihaqi 9/4. Ibnu Hibban, Mawaarid, (94). Ath-Thabrani, Al-Kabiir Mukhtashar (1651). Sanadnya lemah. Lihat, Takriij Mawaariduzh Zham'aan, 1/196-198 karya Ustad Husain Salim Asad ad-Darami.

38. Al-BUKHARI (3330). Muslim (1470). Hadis itu berasal dari riwayat Abu Hurairah R.A.

Artikel Terkait



Rating Artikel Ini


Kolom Komentar


Walhamdulillahi Rabbil'alamin

Argumen Yang Mengatakan Surga Adam Adalah Taman di Bumi Bagian 2


Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh




Asyhadu an-laa ilaaha illallaah Wa asyhadu anna Muhammadan rasuulullaah

Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah rasul (utusan) Allah.

Silahkan Membaca dan Menyimak


Ibnu Ishaq menyebutkan riwayat dari Ibnu Abbas yang menuturkan, bahwa Allah menjadikan Adam a.s. Mengantuk dan tertidur. Lalu Allah mengambil salah satu tulang rusuk Adam yang sebelah kanan, yang tempatnya dipenuhi daging. Saat Adam masih terlelap tidur, Allah s.w.t menciptakan istri Adam, Hawa dari tulang rusuk Adam. Perempuan itu diciptakan untuk menentramkan hati Adam. Saat Adam terjaga dari tidurnya dan melihat Hawa di sampingnya, Adam mengatakan, ''Wahai daging, darah, dan istriku.'' Adam pun tentram bersamanya.

Tidak ada perdebatan tentang Allah s.w.t menciptakan Adam di bumi. Tidak ada satu sumber pun yang menyebutkan bahwa Allah memindahkan Adam ke langit itu. Seandainya Adam dipindahkan dari bumi ke langit, semestinya kisah itu yang paling utama disebutkan. Karena itu merupakan tanda besar dan nikmat agung, mengingat posisinya sebagai mi'raj dengan badan dan ruh dari bumi ke atas langit.

Namun bagaimana mungkin Allah s.w.t memindahkannya dan menempatkannya di langit, sementara Allah s.w.t mengabarkan kepada para malaikat bahwa Dia akan menciptakan khalifah khalifah di muka bumi? Mana mungkin pula Allah s.w.t menempatkan Adam di Surga Khuldi yang mana orang yang memasukinya akan kekal di dalamnya, tanpa keluar lagi, sebagaimana firman-Nya, ''Mereka tidak akan keluar darinya (surga).'' (QS. Al-Hijr: 48).

Jika yang dimaksud adalah bahwa Allah s.w.t menurunkan Iblis dari langit ketika menolak sujud kepada Adam, maka persoalan ini berkaitan dengan penciptaan Adam. Adam kemudian ditempatkan di surga. Perintah sujud kepada Adam diberitahukan oleh Allah setelah Adam tercipta, tanpa jeda waktu. Jika surga Adam terletak di atas langit, maka Iblis tidak punya jalan untuk menaikinya, karena telah diturunkan.

Kemungkinan-kemungkinan pemaknaan tersebut boleh-boleh saja. Misalnya ada yang mengatakan, boleh jadi Iblis naik ke surga sementara, bukan untuk menetap. Ada pula yang mengatakan, Iblis masuk surga ke dalam tubuh ular. Ada yang berpendapat, Iblis masuk ke mulut ular. Ada yang mengatakan Iblis yang di bumi menggoda Nabi Adam yang berada di langit. Jarak itu tak menghalangi pengaruh yang kuat.

Namun pendapat semacam itu bertentangan dengan pendapat kami, bahwa ketika menurunkan Iblis dari surga karena enggan bersujud kepada Adam, Allah mengobarkan permusuhan antara Iblis dan manusia. Ketika Allah menempatkan Adam di surga-Nya, Iblis iri kepada Adam, dan berusaha menipunya agar keluar dari surga. Wallaahu a'lam.

Orang-orang yang mengatakan bahwa surga yang ditempati Adam a.s. adalah taman di bumi mengatakan bahwa salah satu bukti surga yang ditempati Adam a.s. bukan Surga Khuldi yang dijanjikan Allah s.w.t menciptakan Adam, Allah memberitahunya bahwa umurnya berbatas. Bahwa Adam diciptakan tidak untuk selamanya.

Hal itu diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, bahwa Rasulullah s.a.w bersabda, ''Ketika menciptakan Adam a.s, Allah meniupkan ruh kepadanya. Adam berkata, ''Segala puji bagi Allah yang telah mengizinkanku ada.'' Allah s.w.t berfirman, ''Allah s.w.t akan mengasihimu Adam. Pergilah ke para malaikat yang sedang duduk-duduk itu lalu katakan ''Salam sejahtera untukmu.'' Adam melakukannya dan para malaikat menjawab, ''Salam sejahtera untukmu.'' Adam kembali kepada Allah dan berkata, ''Ini ucapan salam-Mu dan ucapan salam antara diri-Mu dan para malaikat.'' Allah s.w.t lalu mengepalkan kedua tangan-Nya sambil berkata kepada Adam, ''Pilihlah yang kau suka.'' Adam berkata, ''Aku memilih yang sebelah kanan-Mu yang penuh berkah.'' Allah menyodorkan tangan kanan-Nya yang berisi keturunan Adam. Adam bertanya, ''Siapa mereka ?'' Allah s.w.t berfirman, ''Mereka anak cucumu. Semua orang telah dicatat umurnya dalam pengawasan Allah. Ada orang yang cepat meninggal, ada pula yang panjang umur.'' Adam bertanya, ''Siapa ini, ya Allah?'' Allah s.w.t. menjawab, ''Itu anakmu, Daud. Telah kutetapkan baginya umur empat puluh tahun.'' Adam memohon, ''Ya Allah ! Tambahkanlah umurnya.'' Allah menjawab, ''Itulah yang Kutetapkan baginya.'' Adam berkata, ''Ya Allah! Berikan jatah umur enam puluh tahunku untuknya.'' Allah menjawab, ''Baik, umurmu akan dihadiahkan untuknya. Lalu tinggalah di surga sekehendakmu, lantas turunlah dari sana.'' Adam pun berjanji ppada dirinya untuk menuntut janji Tuhan itu. Ketika Malaikat Maut datang hendak menjemput Adam, Adam berkata, ''Aku telah ditangguhkan. Allah s.w.t. telah menetapkan bagiku seribu tahun.'' Malaikat Maut menjawab, ''Betul, Tapi engkau telah menjadikan anakmu yang bernama Daud berumur enam puluh tahun.'' Adam membantah, sehingga anak cucunya pun dapat membantah. Adam lupa, sehingga anak cucunya pun dapat lupa. Sejak hari itu, Allah memerintahkan untuk menggunakan Kitab Suci dan Saksi.'' (35) At-Tirmidzi mengatakan, bahwa hadis ini hasan gharib (bagus tapi aneh), yang diriwayatkan dari jalur selain Abu Hurairah juga.

Keterangan Nomer:

35. At-Tirmidzi (3365). Hakim menshahihkan dalam kitabnya 1/64. Adz-Dzahabi menyepakati penshahihan itu. Hadis itu termasuk hadis hasan, sebagaimana tercatat dalam Shahih At-Tirmidzi (2683).

Recent Post

Tags Postingan

Rating Artikel Ini


Kolom Komentar


Walhamdulillahi Rabbil'alamin

Argumen Yang Mengatakan Surga Adam Adalah Taman di Bumi


Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh




Asyhadu an-laa ilaaha illallaah Wa asyhadu anna Muhammadan rasuulullaah

Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah rasul (utusan) Allah.

Silahkan Membaca dan Menyimak


Allah s.w.t. telah mengabarkan melalui para rasul-Nya, bahwa Surga Khuldi hanya dimasuki di Hari Kiamat. Masa itu belum datang. Namun, Allah s.w.t telah menyebutkan ciri-cirinya di dalam Kitab Suci-NYA. Adalah mustahil bila Allah s.w.t menggambarkan sesuatu dan sesuatu itu tidak memiliki ciri-ciri tersebut.

Kita tahu bahwa Allah s.w.t menggambarkan sifat surga yang dijanjikan untuk orang-orang yang bertakwa dengan sebutan ''darul muqaamah (tempat yang kekal)'' (QS. Faathir: 35). Barangsiapa memasukinya, maka dia akan kekal di dalamnya. Sementara Adam a.s. tidak kekal berada di surga.



Allah s.w.t menyebut surga sebagai ''jannatul Khuldi (surga yang abadi)'' (QS. Al-Furqaan: 15). Sedangkan Adam a.s tidak abadi di dalamnya.

Allah s.w.t menyebut surga sebagai tempat pengganjaran, bukan tempat pemberian tanggungan perintah dan larangan. Sedangkan Adam mendapat perintah dan larangan di surga.

Allah s.w.t menyebut surga sebagai tempat keselamatan mutlak, bukan tempat cobaan dan ujian. Sedangkan Adam diberi cobaan besar di surga.

Allah s.w.t menyebut surga sebagai tempat yang takkan digunakan untuk bermaksiat dan menentang-Nya. Namun Adam a.s telah bermaksiat dan menentang-Nya. Namun Adam a.s telah bermaksiat dan menentang Allah s.w.t di surga.

Allah s.w.t menyebut surga sebagai tempat ketakutan dan kesedihan. Namun Adam a.s telah merasakan ketakutan dan kesedihan di surga.

Allah s.w.t menyebut surga dengan panggilan ''daarus salaam (tempat keselamatan)'' (QS. Al-An'aam: 127). Namun, Adam tidak selamat dari fitnah di dalam surga.''

Allah s.w.t menyebut surga sebagai tempat menetap (daarul qaraar) (QS. Ghaafir: 39). Namun Adam a.s tidak menetap di surga.



Allah s.w.t, berfirman, ''Mereka tidak merasa lelah di dalamnya dan mereka sekali-kali tidak akan dikeluarkan daripadanya.'' (QS. Al-Hijr: 48). Namun Adam a.s berlari-lari mencari daun untuk menutupi diri, hingga kelelahan. Dia pun dikeluarkan dari surga.

Allah s.w.t berfirman, ''Di surga tidak ada kata-kata yang tidak bermanfaat dan tidak pula perbuatan dosa.''

Allah mengatakan di surga tidak ada kebohongan. Sementara Adam a.s ditipu oleh Iblis di dalam surga.

Allah menyebut di surga sebagai ''tempat kejujuran'' (QS. Al-Qamar: 55). Namun Iblis telah berbohong dan bersumpah palsu di dalam surga.

Allah s.w.t berfirman kepada para malaikat, ''Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.'' (QS Al-Baqarah: 30). Allah tidak mengatakan, ''Aku menciptakan khalifah di surga.'' Lantas para malaikat berkata, ''Mengapa Engkau menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah?'' (QS. Al-Baqarah: 30). Hal itu mustahil ada di surga.

Allah s.w.t mengabarkan bahwa Iblis berkata kepada Adam a.s., ''Hai Adam, maukah aku tunjukkan kepada kamu pohon Khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa.'' (QS. Thaahaa: 120) Jika Allah s.w.t telah menempatkan Adam a.s di surga yang kekal dan di kerajaan yang takkan hancur, niscaya Adam a.s. Akan menjawab, ''Mengapa kau ingin memberitahu sesuatu yang telah aku terima?'' Perkataan Iblis itu menunjukkan bahwa Allah s.w.t tidak memberitahu Adam a.s. Bahwa dirinya akan berada di surga untuk selama-lamanya. Seandainya tempat Adam saat itu adalah surga yang kekal abadi, maka perkataan Iblis tak ada gunanya. Namun karena Adam a.s., tidak di Surga Khuldi, maka Iblis dapat mengiming-imingnya dengan keabadian di Surga.

Seandainya Adam tinggal di Surga Khuldi yang suci dan hanya ditempati orang suci, maka bagaimana mungkin Iblis yang najis dan hina itu dapat masuk ke surga dan menggoda Adam a.s.? Godaan itu bisa dihembuskan ke hati atau diperdengarkan di telinga. Yang jadi persoalan bagaimana mungkin makhluk yang terlaknat masuk ke tempat orang-orang bertakwa.



Allah s.w.t telah berkata kepada Iblis, ''Turunlah kamu dari surga itu, karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina.'' (QS. Al-A'raaf: 13). Apakah mungkin bagi Iblis untuk naik lagi ke surga yang terletak di atas langit ketujuh setelah diusir dari surga oleh Allah s.w.t.?

Jika dikatakan bahwa Iblis yang berada di bumi menggoda Adam dan Hawa yang berada di atas langit, maka pendapat ini sama sekali tidak masuk akal baik secara bahasa, secara inderawi maupun secara kebiasaan. Jika ada yang menganggap bahwa Iblis masuk ke perut ular yang menyampaikan godaan kepada Amdal dan Hawa, maka perkataan itu pun batik. Sebab, bagaimana mungkin Iblis dapat naik ke surga setelah diusir darinya, meskipun Iblis masuk ke perut ular?

Jika dikatakan bahwa Iblis masuk ke hati Adam dan Hawa, lantas menggoda keduanya, maka pendapat itu pun lemah. Sebab Allah s.w.t menceritakan bagaimana Iblis berbicara langsung kepada Adam dan Hawa, ''Tuhan kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga).'' (QS. Al-A'RAAF: 20). Perkataan Iblis itu menunjukkan bahwa dia melihat Adam, Hawa dan pohon Khuldi.

Ketika Adam a.s. keluar dari surga, Allah s.w.t berfirman, ''Bukankah telah melarang kamu berdua dari pohon itu?'' (QS. Al-A'RAAF: 22) Allah tidak berkata, ''dari pohon ini'', sebagaimana saat iblis berkata, ''Tuhan kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga).'' (QS. Al-A'RAAF: 20).

Ketika Iblis berkata demikian, Adam masih diberi makan dari surga. Menetap di suatu tempat ditunjukkan dengan kata tunjuk yang menunjukkan kehadiran dan kedekatan.

Ketika Allah s.w.t hendak mengeluarkan Adam dan Hawa dari surga, Allah s.w.t berfirman, ''Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon itu?'' (QS. Al-A'RAAF: 22). Di situ kata tunjuk yang digunakan adalah kata yang menunjukkan sesuatu yang jauh (itu). Ayat itu menunjukkan bahwa Adam dan Hawa tidak menetap di surga dan takkan melihat pohon terlarang lagi.

Allah s.w.t berfirman, ''Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikan-Nya.'' (QS. Faathir: 10). Godaan setan adalah perkataan kotor, yang seharusnya tidak bisa naik ke tempat suci.

Mundzir meriwayatkannya, bahwa Nabi Muhammad s.a.w bersabda, ''Adam a.s. tidur di surganya.'' Padahal tidak ada tidur di dalam Surga Khuldi (surga akhirat), sebagaimana disepakati oleh kaum Muslimin. Kesepakatan itu didasarkan pada pertanyaan seseorang kepada Nabi, ''Apakah penghuni surga tidur? Rasulullah s.a.w menjawab, ''Tidak. Tidur adalah saudara mati.'' (34) Al-Qur'an pun telah menyebutkan hal serupa. Kematian adalah perubahan kondisi. Sedangkan surga terbebas dari perubahan kondisi, dan orang yang tidur seperti orang mati.

Mujahid mengatakan, ''Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam, ketika Adam tidur.''

Asbath menyebutkan riwayat dari As-Suda yang menuturkan, ''Adam tinggal di surga. Dia berjalan sendirian tanpa pasangan, lalu ia tidur. Ketika terjaga, Adam mendapati seorang perempuan di samping kepalanya. Perempuan itu diciptakan dari tulang rusuk Adam. Adam pun bertanya kepadanya, ''Siapa engkau?'' Perempuan itu menjawab, ''Aku adalah perempuan.'' Adam bertanya, ''Untuk apa kau diciptakan?'' Perempuan itu menjawab, ''Untuk menentramkan dirimu''.


Artikel Terkait

Tags Postingan


Rating Artikel Ini


Sudah Baca Brader ??? Bener Niiih ??? Oke, Kalau Sudah Membaca Jangan Lupa Komentar


Walhamdulillahi Rabbil'alamin

Argumen Yang Mengatakan Surga Adam Adalah Surga Khuldi


Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh



Asyhadu an-laa ilaaha illallaah Wa asyhadu anna Muhammadan rasuulullaah

Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah rasul (utusan) Allah.

Silahkan Membaca dan Menyimak




ROAD TO HEAVEN - JALAN KE SURGA - Orang-orang yang mengatakan surga Adam adalah Surga Khuldi mengatakan bahwa perkataannya itu sesuai dengan yang difitrahkan Allah s.w.t pada manusia. Tak ada yang terbersit di hati mereka kecuali pengertian itu.

Muslim telah mencatat di dalam Shahih-nya sebuah hadis riwayat Abu Malik dari Abu Hazim dari Abu Hurairah dan Abu Malik dari Ra'i dari Hudzaifah yang mengatakan bahwa Rasulullah s.a.w bersabda, ''Allah s.w.t mengumpulkan semua umat manusia. Orang-orang beriman berdiri hingga mendekati surga. Mereka mendatangi Adam dan memohon, ''Wahai bapak kami! Bukakanlah pintu surga untuk kami.'' Adam menjawab, ''Bukankah kalian dikeluarkan dari surga karena kesalahan bapak kalian ini?'' (32)

Hadis itu menunjukkan bahwa surga yang darinya Adam dikeluarkan adalah surga yang diminta orang-orang di Hari Kiamat itu untuk dibukakan pintunya.

Ash-Shahihaini telah menyebutkan hadis tentang hadis dialog Adam dan Musa. Musa a.s. berkata, ''Engkau telah mengeluarkan kita semua dan dirimu sendiri dari surga.'' (33) Seandainya surga Adam di dunia, maka mereka berarti telah keluar dari kebun atau taman, bukan dari surga.

Adam a.s. berkata kepada orang-orang beriman di Hari Kiamat, ''Bukankah kalian dikeluarkan dari surga karena kesalahan bapak kalian?'' Kesalahan takkan menyebabkan Adam dikeluarkan dari kebun atau taman dunia.

Allah s.w.t berfirman, ''Dan Kami berfirman, ''Hai Adam, diamilah oleh kamu dan istrimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim. Lalu keduanya digelincirkan oleh setan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman, ''Turunlah kamu! Sebahagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan.'' (Q.S. Al-Baqarah: 35-36)

Ayat itu menunjukkan, bahwa Adam dan istrinya diturunkan dari surga ke bumi. Dalilnya ada dua. Pertama, Lafazh, ''Ihbithuu'' (turunlah kamu). Kata itu berarti turun dari atas ke bawah. Kedua, kalimat ''wa laku fil ardhi mustaqarrun'' (dan bagus kamu tempat kediaman di bumi). Kalimat ini jelas menunjukkan bahwa mereka sebelum itu tidak berada di bumi.

Penguat dalil itu ada di surah al-A'raaf. ''Allah berfirman, ''Di bumi itu kamu hidup dan di bumi itu kamu akan mati, dan dari bumi itu (pula) kamu akan dibangkitkan.'' (Q.S. Al-Araaf: 25). Jika surga Adam ada di Bumi, niscaya ada kehidupan mereka di bumi sebelum dikeluarkan darinya dan setelah dikeluarkan darinya.

Allah s.w.t telah melukiskan surga Adam dengan ciri-ciri yang hanya terdapat pada Surga Khuldim sebagaimana firman-Nya, ''Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang, dan sesungguhnya kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak (pula) akan ditimpa panas matahari di dalamnya". (Q.S. Thaahaa: 18-19). Kondisi itu tidak ada di bumi. Orang yang punya tempat tinggal sangat nyaman sekalipun harus mendatangkan sesuatu untuk merasakan hal tersebut.

Allah memasang-masangkan kata lapar dan telanjang, serta dahaga dan panas. Pasangan kata itu lebih baik daripada pasangan kata lapar dan dahaga, telanjang dan panas terik. Sebab, lapar adalah derita batin, sedangkan telanjang adalah derita lahir. Haus adalah panas batin, sedangkan panas terik matahari adalah panas secara lahir. Kehilangan tempat tinggal semacam itu adalah derita lahir dan batin, panas lahir dan batin. Kondisi nyaman seperti tersebut di atas adalah kondisi Surga Khuldi.

Seandainya surga Adam terletak di dunia, niscaya Adam tahu kebohongan Iblis yang berkata, ''Hai Adam, maukah aku tunjukkan kepadamu ppohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?'' (QS. Thaahaa: 120). Adam tentu tahu bahwa dunia itu fana dan kerajaannya pun akan binasa.

Kisah Adam yang terdapat dalam surah al-Baqarah sangat jelas menunjukkan, bahwa surga yang mana Adam dikeluarkan darinya berada di atas langit. Allah s.w.t. Berfirman, ''Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. Dan Kami berfirman: "Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini. yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim.'' Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: "Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan." Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.'' (Al-Baqarah: 34-37). Adam, Hawa' dan Iblis diturunkan dari surga. Karena itu, kata ganti yang digunakan adalah kata ganti dalam bentuk jamak ''inbithuu'' (turunlah kalian).

Ada yang mengatakan perintah itu untuk Adam, Hawa dan ular. Perkataan itu sangat lemah landasannya. Sebab ular sama sekali tidak disebutkan dalam kisah Adam itu. Di dalam ayat itu pun tidak ada sesuatu pun yang menunjukkan keberadaan ular.

Ada yang berpendapat, bahwa perintah itu ditujukan pada Adam dan Hawa dengan kata ganti jamak. Ini serupa dengan ayat, ''Dan (ingatlah kisah) Daud dan Sulaiman, di waktu keduanya memberikan keputusan mengenai tanaman, karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya. Dan adalah Kami menyaksikan keputusan yang diberikan oleh mereka itu.'' (Al-Anbiyaa: 78). Kata ganti ''mereka (hum)'' menunjuk pada Daud dan Sulaiman, padahal seharusnya untuk menunjuk dua orang, kata ganti yang dipakai adalah ''huma'' (kedua orang itu).

Ada yang berpendapat perintah turun dari surga dengan kata ganti jamak itu untuk Adama, Hawa dan keturunannya. Perkataan ini juga lemah. Tidak ada dalil baginya. Bahkan justru bertentangan dengan lafaz yang ada.

Jadi, jelaslah bahwa perintah itu untuk Adam, Hawa dan Iblis. Iblis termasuk pihak yang harus turun dari surga.

Allah mengulanu perintah keppada mereka untuk turun untuk kedua kalinya dalam ayat, ''Kami berfirman: "Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati". (QS. Al-Baqarah: 38). Secara eksplisit, perintah kedua ini berbeda dari perintah pertama. Perintah kedua adalah perintah turun dari langit ke bumi. Sedangkan perintah pertama adalah perintah turun dari surga. Jadi, surga tempat Adam keluar darinya itu berada di atas langit. Ia adalah Surga Khuldi.

Az-Zamakhsyar menganggap bahwa firman-Nya, ''Turunlah kalian semua darinya.'' adalah khusus untuk Adam dan Hawa. Mereka berdua disebut dengan kata ganti jamak untuk melibatkan seluruh keturunan keduanya. Dalilnya firman Allah s.w.t., ''Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh sebagian yang lain.'' (QS. Thaahaa: 123). Ayat yang selaras dengan itu antara lain, ''Barangsiapa mengikuti perintah-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal didalamnya.'' (QS. Al-Baqarah: 39)

Ayat yang disebut terkahir menunjuk pada seluruh umat manusia. Makna firman-Nya, ''Sebagian kalian menjadi musuh bagi sebagian lain.'' adalah permusuhan, kebencian, penyesatan antara satu orang dengan orang lain.

Keterangan Angka

32. Muslim (195)

33. Al-Bukhari (3409, 4736, 4738, 6614, dan 7515). Musli, (2562). Hadis itu berasal dari Abu Huraiah RA. Untuk keterangan lebih lanjut, baca Jaami'uul Ushuul (7598) dan Musnad Abu Ya'ala (2465).


Artikel Terkait
Tags Postingan



Rating Artikel Ini

Kolom Komentar



Walhamdulillahi Rabbil'alamin