Tampilkan postingan dengan label dialog surga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dialog surga. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 November 2013

Argumen Yang Mengatakan Surga Adam Adalah Taman di Bumi Bagian 3


Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh



Asyhadu an-laa ilaaha illallaah Wa asyhadu anna Muhammadan rasuulullaah

Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah rasul (utusan) Allah.

Silahkan Membaca dan Menyimak


Menurut orang-orang yang mengatakan bahwa surga yang ditempati Adam a.s adalah taman di bumi, hadis tersebut secara jelas menerangkan bahwa Adam tidak diciptakan di tempat yang kekal, yang mana penghuninya tidak akan mati. Sebaliknya, Adam diciptakan di tempat yang fana, tempat yang telah ditentukan batas waktu tertentu bagi penghuninya.

Jika ada yang bertanya, seandainya Adam tahu bahwa umurnya dibatasi, dirinya akan mati, dirinya takkan abadi, maka mengapa dia tidak tahu kebohongan Iblis yang mengatakan, ''Maukah kau kuberitahu tentang pohon Khuldi ?'' (QS. Thaahaa:120), lantas mengatakan, ''Tuhan kamu tidak melarang dari mendekati pohon ini, supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga).'' (QS. Al-A'raf: 20)

Ada dua model jawaban atas pertanyaan itu. Pertama, Khuldi tidak mengharuskan kekekalan abadi. Khuldi juga dapat berarti tinggal dalam waktu yang lama. Nanti hal itu akan dijelaskan lebih lanjut.

Kedua, ketika Iblis bersumpah kepada Adam dan mengiming-iminginya dengan keabadian, Adam lupa akan umur yang telah ditetapkan untuknya.

Orang-orang yang mengatakan bahwa surga yang ditempati Adam a,s.w.t adalah taman di bumi mengatakan, bahwa umat Islam tidak berselisih pendapat tentang keterciptaan dari tanah bumi ini. Allah s.w.t telah mengabarkan, bahwa Dia menciptakan Adam dari ''saripati tanah.'' (QS. Al-Mu'minuun: 12). Allah s.w.t menciptakan Adam dari, ''shalshaalin min masnuun (tanah liat kering yang berasal dari lumpur hitam yang diberi bentuk).'' (QS. Al-Hijr: 26).

Ada yang mengatakan Adam dinyatakan berasal dari shalshalah (tanah liat kering), karena Adam memang kering. Ada pula yang mengatakan Adam dikatakan dari shalshalah, karena berubah aroma. Sebab, kata shalla berarti sesuatu yang berubah, seperti perkataan shalshalahmu untuk menyebut daging yang telah berubah.

Hama' berarti tanah hitam yang berubah. Mashnuun berarti yang dibentuk.

Itu semua penjelasan tentang fase-fase tanah yang menjadi cikal bakal pertama penciptaan Adam, sebagaimana Allah s.w.t menjelaskan fase-fase penciptaan keturunan Adam, ''Dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna.'' (QS. Al-haj: 5)

Allah s.w.t sama sekali tidak menjelaskan bagaimana Adam diangkat dari bumi ke langit, baik sebelum diciptakan. Adakah dalil tentang pengangkatan materi Adam atau pengangkatannya setelah diciptakan? Dalil itu tidak ada. Tak ada pula hal-hal yang bisa menopang dalil semacam itu walau secara tersirat.

Yang telah diketahui adalah bahwa tempat di atas langit bukanlah tempat untuk tanah bumi yang dapat berubah aroma menjadi busuk. Tanah yang semacam itu hanya terdapat di bumi, tempat hal-hal yang berubah dan dapat rusak. Tempat di atas langit tak terkait dengan perubahan, kerusakan, dan pergantian kondisi. Tak masuk akal jika dikatakan, bahwa tempat keabadian berisi sesuatu yang fana.

Allah s.w.t berfirman, ''Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam surga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya.'' (QS. Huud: 108). Allah s.w.t memberitahu bahwa karunia di Surga Khuldi itu tak terputus.

Jika semua yang dikabarkan Allah s.w.t itu dikumpulkan, maka akan dapat disimpulkan, bahwa Allah s.w.t menciptakan Adam dari bumi. Allah s.w.t menjadikan Adam a.s sebagai khalifah di muka bumi. Iblis menggoda Adam a.s di tempat tinggalnya, setelah Iblis diturunkan dari langit lantaran enggan bersujud kepada Adam. Allah s.w.t telah mengabarkan kepada para malaikat, ''Aku hendak menciptakan khalifah di muka bumi.'' (QS. Al-Baqarah: 30).

Surga Khuldi adalah tempat pengganjaran atas segala cobaan dan ujian. Tidak ada perkataan sia-sia, tidak ada perbuatan dosa dan tidak ada kebohongan di dalam Surga Khuldi. Orang yang telah masuk Surga Khuldi tidak akan keluar darinya. Tidak ada keputus asaan dan kesedihan di dalam Surga. Tidak ada pula rasa takut dan mengantuk di dalamnya. Allah s.w.t mengharamkan surga dari orang-orang kafir. Dan Iblis adalah pimpinan orang-orang kafir.

Jika semua dalil itu dikumpulkan dan saling dikait-kaitkan, maka penulis Blog ini yang menjunjung tinggi dalil dan menjauhi taklim menyimpulkan, bahwa pendapat orang-orang yang mengatakan bahwa surga Adam terletak di bumi adalah benar. Namun, Allah s.w.t jualah yang Maha Tahu.

Orang-orang yang mengatakan bahwa surga Adam terletak di bumi mengatakan bahwa surga bukanlah tempat untuk taklif (pemberian beban kewajiban/larangan). Namun, Adam dan Hawa telah diberi larangan untuk memakan sesuatu dari suatu pohon. Hal itu menunjukkan bahwa tempat Adam dan Hawa adalah tempat takliif, bukan tempat pengganjaran yang abadi. Itu adalah sebagian argumen orang-orang yang mengatakan bahwa surga Adam terletak di bumi. Wallahu a'lam.

Recent Post

Tags Postingan

Rating Artikel Ini

Kolom Komentar

Walhamdulillahi Rabbil'alamin

Argumen Yang Mengatakan Surga Adam Adalah Surga Khuldi Bagian 2




Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh




Asyhadu an-laa ilaaha illallaah Wa asyhadu anna Muhammadan rasuulullaah

Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah rasul (utusan) Allah.

Silahkan Membaca dan Menyimak


ROAD TO HEAVEN - JALAN KE SURGA- Itu adalah pendapat yang lemah tentang ayat di atas. Permusuhan yang disebut ayat tersebut adalah permusuhan yang terjadi antara Adam, Iblis dan keturunannya, sebagaimana firman-Nya, ''Sesungguhnya setan adalah musuh kalian. Maka jadikanlah dia musuh.'' (QS. Faathir: 6). Allah s.w.t telah menyebutkan permusuhan antara setan dan manusia. Allah mengabarkan hal itu secara berulang-ulang di dalam al-Qur'an karena pentingnya kewaspadaan dalam permusuhan itu.

Adapun mengenai Adam dan istrinya, Allah telah mengabarkan di dalam Kitab Suci-Nya, bahwa dia diciptakan untuk menempati surga. Allah ciptakan cinta dan kasih sayang antara mereka berdua.

Jadi, cinta kasih itu terjadi antara laki-laki dan perempuan. Adapun permusuhan itu terjadi antara manusia dan setan.

Mengenai firman Allah s.w.t yang berbunyi, ''Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh sebagian yang lain.'' (QS. Thaahaa:123), ditujukan kepada Adam dan Hawa. Sebagian dari mereka bisa menjadi musuh bagi yang lain.

Kata ganti ''Kamu berdua'' bisa merujuk pada Adam dan istrinya, bisa juga merujuk pada Adam dan Iblis. Istri Adam tidak disebut karena mengikuti suami. Jika demikian halnya, maka permusuhan yang disebut terjadi antara orang-orang yang diturunkan adalah permusuhan antara Adam dan Iblis.

Jika kata ganti itu dirujukkan pada Adam dan istrinya, maka ayat itu mengandung dua makna. Pertama, Allah menyuruh Adam dan istrinya untuk turun. Kedua, Allah memberi tahu tentang permusuhan yang terjadi antara Adam dan istrinya melawan Iblis. Karena itu, kata ganti jamak disebutkan di bagian kedua (sebagian dari kalian), bukan di bagian pertama (kalian berdua).

Jadi, Iblis masuk dalam permusuhan yang disebutkan itu, sebagaimana firman-Nya, ''Ini adalah musuh bagimu dan istrimu.'' (QS. Thaahaa: 117). Allah s.w.t pun berfirman pada keturunan Adam, ''Sesungguhnya setan adalah musuh kalian. Maka jadikanlah dia musuh.'' (QS. Faathir: 6).

Coba perhatikan bagaimana kata permusuhan dikaitkan dengan kata ganti jamak (tiga orang atau lebih), bukan dengan kata ganti untuk dua orang (tatsniyyah). Kata ''turun'' kadang dikaitkan dengan kata ganti tunggal.

Kata ''turun'' yang diiringi kata ganti tunggal misalnya firman Allah s.w.t di dalam surah Al-Araaf: ''Turunlah dari surga.'' Contoh lainnya surah Shaad yang menyebutkan kata turun untuk Iblis semata.

Adapun kata ''turun'' yang diiringi dengan kata ganti jamak merujuk pada Adam, istrinya dan Iblis. Sebab, mereka bertigalah yang menjadi fokus cerita.

Sedangkan kata turun yang diiringi kata ganti jamak untuk dua orang, terkadang merujuk pada Adam dan istrinya - karena keduanya memakan buah pohon surga dan melakukan maksiat - atau merujuk pada Adam dan Iblis - karena keduanya pihak-pihak yang menanggung beban tanggung jawab. Kondisi permusuhan Adam dan Iblis itu ditunjukkan untuk menjadi pedoman, nasihat, dan pelajaran bagi keturunan Adam. Jadi, ada dua pendapat tentang kata ganti untuk dua orang dalam kata ''ihbithaa''.

Yang menjelaskan bahwa kata ganti tersebut untuk Adam dan Iblis adalah bahwa Allah s.w.t saat menyebut maksiat hanya menyebut Adam tanpa istrinya. Allah s.w.t berfirman, ''Durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia. Kemudian Tuhannya memilihnya maka Dia menerima tobatnya dan memberinya petunjuk. Allah berfirman, ''Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama.'' (QS. Thaahaa: 121-123). Ayat itu menunjukkan bahwa yang diminta untuk turun adalah Adam, karena dialah yang telah melakukan maksiat, sedangkan istrinya masuk sebagai pengikut.

Allah s.w.t telah mengabarkan bahwa istri Adam turut serta memakan buah terlarang itu bersama Adam. Bahwa Adam diturunkan dan dikeluarkan dari surga karena dia memakannya. Maka diketahui bahwa hukum yang diterapkan pada sang istri juga semacam itu. Dia mengalami apa yang dialami Adam.

Secara keseluruhan, firman Allah s.w.t yang berbunyi, ''Turunlah kalian! Sebagian kalian adalah musuh bagi sebagian yang lain,'' menggunakan kata ganti jamak (kalian). Pengertian ini tidak seharusnya diseret ke arah kata ganti untuk dua orang, seperti dalam firman-Nya, ''Turunlah kalian berdua''.



Orang-orang yang mengatakan surga Adam adalah Surga Khuldi berpendapat bahwa kata ''al-Jannah'' (surga) dilafazkan dalam bentuk kata definitif (tertentu/ma'rifah) dengan huruf alif dan laam (al) di semua tempat, sebagaimana firman-Nya, ''Tinggallah kamu dan istrimu di dalam surga (al-Jannah).'' (QS. Al-Baqarah: 35). Tak ada surga yang dijanjikan dan dikenal kecuali Surga Khuldi yang di janjikan oleh Allah s.w.t untuk hamba-hamba-Nya, meskipun masih dalam keadaan gaib. Kata benda itu (Jannah) telah menjadi nama diri surga, sebagaiman kata al-Madinah (kota Madinah), Al-Bait (Ka'bah), al-Kitab (al-Qur'an) dan lain sebagainya.

Sejauh kata al-Jannah disebut secara ma'rifah (dengan awalan huruf al), maka kata itu langsung diasosiasikan kepada surga yang telah dijanjikan dan diketahui oleh hati orang-orang yang beriman.

Jika Jannah digunakan menyebutkan hal-hal selain surga, biasanya kata itu disebut sejarah nakirah (tidak menentu) atau dibatasi dengan idzafah (frasa), atau dibatasi dengan konteks yang menunjukkan bahwa kata itu menunjuk pada taman di dunia.

Yang pertama, semisal firman Allah s.w.t, ''Dua kebun anggur (jannatain), ''Ma Sya'Allaah, Laa quwwata illaa billaah'' (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah).'' (QS. Al-Kahfi: 39). Yang ketiga, seperti firman Allah s.w.t ''Sesungguhnya Kami telah mencoba mereka (musyrikin Mekah) sebagaimana Kami telah mencobai pemilik-pemilik kebun (Jannah), ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh akan memetik (hasil)nya di pagi hari.'' (QS. Al-Qalam: 17).



Yang membuktikan bahwa surga yang ditempati Adam itu surga Ma'wa, adalah riwayat Hudzah ibn Khalifah dari Auf dari Qasamah ibn Zuhair dari Abu Musa al-Asy'ari yang berkata, ''Ketika mengeluarkan Adam dari Surga, Allah s.w.t membekalinya dengan buah-buahan surga. Allah mengajarinya membuat segala sesuatu. Dan buah-buahan kalian ini berasal dari Surga. Bedanya, buah-buahan surga tidak berubah, sedangkan buah-buahan dunia berubah.''

Allah s.w.t. menjamin Adam bahwa jika dia bertobat, maka Allah s.w.t akan mengembalikannya ke surga. Hal itu seperti diriwayatkan oleh Minhal dari Sa'id ibn Jubair dari Ibnu Abbas yang mengomentari firman Allah berikut ini, ''Maka Adam mendapatkan kalimat dari Tuhannya, maka dia bertobat kepada Allah.'' (QS. Al-Baqarah: 37). Adam berkata, ''Ya Allah! Bukankah Engkau menciptakanku dengan tangan-Mu.'' Allah s.w.t menjawab, ''Ya.'' Adam bertanya, ''Ya Allah! Bukankah Engkau yang meniupkan ruh-Mu! Ke dalam diriku?'' Allah s.w.t menjawab, ''Betul.'' Adam berkata, ''Bukankah Engkau telah menempatkanku di surga?'' Allah menjawab, ''Ya.'' Adam bertanya, ''Ya Allah! Bukankah kasih sayang-Mu mendahului murka-Mu?'' Allah menjawab, ''Betul.'' Adam bertanya, ''Bukankah Engkau menentukan bahwa jika aku bertobat dan memperbaiki diri, maka Engkau akan mengembalikanku ke surga?'' Allah s.w.t menjawab, ''Ya''

Ibnu Abbas meriwayatkan, ''Adam mengatakan kepada Tuhannya ketika Adam bermaksiat kepada-Nya. ''Ya Allah! aku telah bertobat dan memperbaiki diri.'' Allah s.w.t ''Aku akan mengembalikanmu ke surga.''

Itu sebagian argumen orang-orang yang berpendapat bahwa surga yang ditempati Adam adalah Surga Khuldi.

Recent Post

Tags Postingan


Rating Artikel Ini

Kolom Komentar


Walhamdulillahi Rabbil'alamin

Argumen Yang Mengatakan Surga Adam Adalah Surga Khuldi


Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh



Asyhadu an-laa ilaaha illallaah Wa asyhadu anna Muhammadan rasuulullaah

Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah rasul (utusan) Allah.

Silahkan Membaca dan Menyimak




ROAD TO HEAVEN - JALAN KE SURGA - Orang-orang yang mengatakan surga Adam adalah Surga Khuldi mengatakan bahwa perkataannya itu sesuai dengan yang difitrahkan Allah s.w.t pada manusia. Tak ada yang terbersit di hati mereka kecuali pengertian itu.

Muslim telah mencatat di dalam Shahih-nya sebuah hadis riwayat Abu Malik dari Abu Hazim dari Abu Hurairah dan Abu Malik dari Ra'i dari Hudzaifah yang mengatakan bahwa Rasulullah s.a.w bersabda, ''Allah s.w.t mengumpulkan semua umat manusia. Orang-orang beriman berdiri hingga mendekati surga. Mereka mendatangi Adam dan memohon, ''Wahai bapak kami! Bukakanlah pintu surga untuk kami.'' Adam menjawab, ''Bukankah kalian dikeluarkan dari surga karena kesalahan bapak kalian ini?'' (32)

Hadis itu menunjukkan bahwa surga yang darinya Adam dikeluarkan adalah surga yang diminta orang-orang di Hari Kiamat itu untuk dibukakan pintunya.

Ash-Shahihaini telah menyebutkan hadis tentang hadis dialog Adam dan Musa. Musa a.s. berkata, ''Engkau telah mengeluarkan kita semua dan dirimu sendiri dari surga.'' (33) Seandainya surga Adam di dunia, maka mereka berarti telah keluar dari kebun atau taman, bukan dari surga.

Adam a.s. berkata kepada orang-orang beriman di Hari Kiamat, ''Bukankah kalian dikeluarkan dari surga karena kesalahan bapak kalian?'' Kesalahan takkan menyebabkan Adam dikeluarkan dari kebun atau taman dunia.

Allah s.w.t berfirman, ''Dan Kami berfirman, ''Hai Adam, diamilah oleh kamu dan istrimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim. Lalu keduanya digelincirkan oleh setan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman, ''Turunlah kamu! Sebahagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan.'' (Q.S. Al-Baqarah: 35-36)

Ayat itu menunjukkan, bahwa Adam dan istrinya diturunkan dari surga ke bumi. Dalilnya ada dua. Pertama, Lafazh, ''Ihbithuu'' (turunlah kamu). Kata itu berarti turun dari atas ke bawah. Kedua, kalimat ''wa laku fil ardhi mustaqarrun'' (dan bagus kamu tempat kediaman di bumi). Kalimat ini jelas menunjukkan bahwa mereka sebelum itu tidak berada di bumi.

Penguat dalil itu ada di surah al-A'raaf. ''Allah berfirman, ''Di bumi itu kamu hidup dan di bumi itu kamu akan mati, dan dari bumi itu (pula) kamu akan dibangkitkan.'' (Q.S. Al-Araaf: 25). Jika surga Adam ada di Bumi, niscaya ada kehidupan mereka di bumi sebelum dikeluarkan darinya dan setelah dikeluarkan darinya.

Allah s.w.t telah melukiskan surga Adam dengan ciri-ciri yang hanya terdapat pada Surga Khuldim sebagaimana firman-Nya, ''Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang, dan sesungguhnya kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak (pula) akan ditimpa panas matahari di dalamnya". (Q.S. Thaahaa: 18-19). Kondisi itu tidak ada di bumi. Orang yang punya tempat tinggal sangat nyaman sekalipun harus mendatangkan sesuatu untuk merasakan hal tersebut.

Allah memasang-masangkan kata lapar dan telanjang, serta dahaga dan panas. Pasangan kata itu lebih baik daripada pasangan kata lapar dan dahaga, telanjang dan panas terik. Sebab, lapar adalah derita batin, sedangkan telanjang adalah derita lahir. Haus adalah panas batin, sedangkan panas terik matahari adalah panas secara lahir. Kehilangan tempat tinggal semacam itu adalah derita lahir dan batin, panas lahir dan batin. Kondisi nyaman seperti tersebut di atas adalah kondisi Surga Khuldi.

Seandainya surga Adam terletak di dunia, niscaya Adam tahu kebohongan Iblis yang berkata, ''Hai Adam, maukah aku tunjukkan kepadamu ppohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?'' (QS. Thaahaa: 120). Adam tentu tahu bahwa dunia itu fana dan kerajaannya pun akan binasa.

Kisah Adam yang terdapat dalam surah al-Baqarah sangat jelas menunjukkan, bahwa surga yang mana Adam dikeluarkan darinya berada di atas langit. Allah s.w.t. Berfirman, ''Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. Dan Kami berfirman: "Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini. yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim.'' Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: "Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan." Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.'' (Al-Baqarah: 34-37). Adam, Hawa' dan Iblis diturunkan dari surga. Karena itu, kata ganti yang digunakan adalah kata ganti dalam bentuk jamak ''inbithuu'' (turunlah kalian).

Ada yang mengatakan perintah itu untuk Adam, Hawa dan ular. Perkataan itu sangat lemah landasannya. Sebab ular sama sekali tidak disebutkan dalam kisah Adam itu. Di dalam ayat itu pun tidak ada sesuatu pun yang menunjukkan keberadaan ular.

Ada yang berpendapat, bahwa perintah itu ditujukan pada Adam dan Hawa dengan kata ganti jamak. Ini serupa dengan ayat, ''Dan (ingatlah kisah) Daud dan Sulaiman, di waktu keduanya memberikan keputusan mengenai tanaman, karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya. Dan adalah Kami menyaksikan keputusan yang diberikan oleh mereka itu.'' (Al-Anbiyaa: 78). Kata ganti ''mereka (hum)'' menunjuk pada Daud dan Sulaiman, padahal seharusnya untuk menunjuk dua orang, kata ganti yang dipakai adalah ''huma'' (kedua orang itu).

Ada yang berpendapat perintah turun dari surga dengan kata ganti jamak itu untuk Adama, Hawa dan keturunannya. Perkataan ini juga lemah. Tidak ada dalil baginya. Bahkan justru bertentangan dengan lafaz yang ada.

Jadi, jelaslah bahwa perintah itu untuk Adam, Hawa dan Iblis. Iblis termasuk pihak yang harus turun dari surga.

Allah mengulanu perintah keppada mereka untuk turun untuk kedua kalinya dalam ayat, ''Kami berfirman: "Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati". (QS. Al-Baqarah: 38). Secara eksplisit, perintah kedua ini berbeda dari perintah pertama. Perintah kedua adalah perintah turun dari langit ke bumi. Sedangkan perintah pertama adalah perintah turun dari surga. Jadi, surga tempat Adam keluar darinya itu berada di atas langit. Ia adalah Surga Khuldi.

Az-Zamakhsyar menganggap bahwa firman-Nya, ''Turunlah kalian semua darinya.'' adalah khusus untuk Adam dan Hawa. Mereka berdua disebut dengan kata ganti jamak untuk melibatkan seluruh keturunan keduanya. Dalilnya firman Allah s.w.t., ''Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh sebagian yang lain.'' (QS. Thaahaa: 123). Ayat yang selaras dengan itu antara lain, ''Barangsiapa mengikuti perintah-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal didalamnya.'' (QS. Al-Baqarah: 39)

Ayat yang disebut terkahir menunjuk pada seluruh umat manusia. Makna firman-Nya, ''Sebagian kalian menjadi musuh bagi sebagian lain.'' adalah permusuhan, kebencian, penyesatan antara satu orang dengan orang lain.

Keterangan Angka

32. Muslim (195)

33. Al-Bukhari (3409, 4736, 4738, 6614, dan 7515). Musli, (2562). Hadis itu berasal dari Abu Huraiah RA. Untuk keterangan lebih lanjut, baca Jaami'uul Ushuul (7598) dan Musnad Abu Ya'ala (2465).


Artikel Terkait
Tags Postingan



Rating Artikel Ini

Kolom Komentar



Walhamdulillahi Rabbil'alamin