Jumat, 22 November 2013

Argumen Yang Mengatakan Surga Adam Adalah Surga Khuldi


Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh



Asyhadu an-laa ilaaha illallaah Wa asyhadu anna Muhammadan rasuulullaah

Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah rasul (utusan) Allah.

Silahkan Membaca dan Menyimak




ROAD TO HEAVEN - JALAN KE SURGA - Orang-orang yang mengatakan surga Adam adalah Surga Khuldi mengatakan bahwa perkataannya itu sesuai dengan yang difitrahkan Allah s.w.t pada manusia. Tak ada yang terbersit di hati mereka kecuali pengertian itu.

Muslim telah mencatat di dalam Shahih-nya sebuah hadis riwayat Abu Malik dari Abu Hazim dari Abu Hurairah dan Abu Malik dari Ra'i dari Hudzaifah yang mengatakan bahwa Rasulullah s.a.w bersabda, ''Allah s.w.t mengumpulkan semua umat manusia. Orang-orang beriman berdiri hingga mendekati surga. Mereka mendatangi Adam dan memohon, ''Wahai bapak kami! Bukakanlah pintu surga untuk kami.'' Adam menjawab, ''Bukankah kalian dikeluarkan dari surga karena kesalahan bapak kalian ini?'' (32)

Hadis itu menunjukkan bahwa surga yang darinya Adam dikeluarkan adalah surga yang diminta orang-orang di Hari Kiamat itu untuk dibukakan pintunya.

Ash-Shahihaini telah menyebutkan hadis tentang hadis dialog Adam dan Musa. Musa a.s. berkata, ''Engkau telah mengeluarkan kita semua dan dirimu sendiri dari surga.'' (33) Seandainya surga Adam di dunia, maka mereka berarti telah keluar dari kebun atau taman, bukan dari surga.

Adam a.s. berkata kepada orang-orang beriman di Hari Kiamat, ''Bukankah kalian dikeluarkan dari surga karena kesalahan bapak kalian?'' Kesalahan takkan menyebabkan Adam dikeluarkan dari kebun atau taman dunia.

Allah s.w.t berfirman, ''Dan Kami berfirman, ''Hai Adam, diamilah oleh kamu dan istrimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim. Lalu keduanya digelincirkan oleh setan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman, ''Turunlah kamu! Sebahagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan.'' (Q.S. Al-Baqarah: 35-36)

Ayat itu menunjukkan, bahwa Adam dan istrinya diturunkan dari surga ke bumi. Dalilnya ada dua. Pertama, Lafazh, ''Ihbithuu'' (turunlah kamu). Kata itu berarti turun dari atas ke bawah. Kedua, kalimat ''wa laku fil ardhi mustaqarrun'' (dan bagus kamu tempat kediaman di bumi). Kalimat ini jelas menunjukkan bahwa mereka sebelum itu tidak berada di bumi.

Penguat dalil itu ada di surah al-A'raaf. ''Allah berfirman, ''Di bumi itu kamu hidup dan di bumi itu kamu akan mati, dan dari bumi itu (pula) kamu akan dibangkitkan.'' (Q.S. Al-Araaf: 25). Jika surga Adam ada di Bumi, niscaya ada kehidupan mereka di bumi sebelum dikeluarkan darinya dan setelah dikeluarkan darinya.

Allah s.w.t telah melukiskan surga Adam dengan ciri-ciri yang hanya terdapat pada Surga Khuldim sebagaimana firman-Nya, ''Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang, dan sesungguhnya kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak (pula) akan ditimpa panas matahari di dalamnya". (Q.S. Thaahaa: 18-19). Kondisi itu tidak ada di bumi. Orang yang punya tempat tinggal sangat nyaman sekalipun harus mendatangkan sesuatu untuk merasakan hal tersebut.

Allah memasang-masangkan kata lapar dan telanjang, serta dahaga dan panas. Pasangan kata itu lebih baik daripada pasangan kata lapar dan dahaga, telanjang dan panas terik. Sebab, lapar adalah derita batin, sedangkan telanjang adalah derita lahir. Haus adalah panas batin, sedangkan panas terik matahari adalah panas secara lahir. Kehilangan tempat tinggal semacam itu adalah derita lahir dan batin, panas lahir dan batin. Kondisi nyaman seperti tersebut di atas adalah kondisi Surga Khuldi.

Seandainya surga Adam terletak di dunia, niscaya Adam tahu kebohongan Iblis yang berkata, ''Hai Adam, maukah aku tunjukkan kepadamu ppohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?'' (QS. Thaahaa: 120). Adam tentu tahu bahwa dunia itu fana dan kerajaannya pun akan binasa.

Kisah Adam yang terdapat dalam surah al-Baqarah sangat jelas menunjukkan, bahwa surga yang mana Adam dikeluarkan darinya berada di atas langit. Allah s.w.t. Berfirman, ''Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. Dan Kami berfirman: "Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini. yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim.'' Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: "Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan." Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.'' (Al-Baqarah: 34-37). Adam, Hawa' dan Iblis diturunkan dari surga. Karena itu, kata ganti yang digunakan adalah kata ganti dalam bentuk jamak ''inbithuu'' (turunlah kalian).

Ada yang mengatakan perintah itu untuk Adam, Hawa dan ular. Perkataan itu sangat lemah landasannya. Sebab ular sama sekali tidak disebutkan dalam kisah Adam itu. Di dalam ayat itu pun tidak ada sesuatu pun yang menunjukkan keberadaan ular.

Ada yang berpendapat, bahwa perintah itu ditujukan pada Adam dan Hawa dengan kata ganti jamak. Ini serupa dengan ayat, ''Dan (ingatlah kisah) Daud dan Sulaiman, di waktu keduanya memberikan keputusan mengenai tanaman, karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya. Dan adalah Kami menyaksikan keputusan yang diberikan oleh mereka itu.'' (Al-Anbiyaa: 78). Kata ganti ''mereka (hum)'' menunjuk pada Daud dan Sulaiman, padahal seharusnya untuk menunjuk dua orang, kata ganti yang dipakai adalah ''huma'' (kedua orang itu).

Ada yang berpendapat perintah turun dari surga dengan kata ganti jamak itu untuk Adama, Hawa dan keturunannya. Perkataan ini juga lemah. Tidak ada dalil baginya. Bahkan justru bertentangan dengan lafaz yang ada.

Jadi, jelaslah bahwa perintah itu untuk Adam, Hawa dan Iblis. Iblis termasuk pihak yang harus turun dari surga.

Allah mengulanu perintah keppada mereka untuk turun untuk kedua kalinya dalam ayat, ''Kami berfirman: "Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati". (QS. Al-Baqarah: 38). Secara eksplisit, perintah kedua ini berbeda dari perintah pertama. Perintah kedua adalah perintah turun dari langit ke bumi. Sedangkan perintah pertama adalah perintah turun dari surga. Jadi, surga tempat Adam keluar darinya itu berada di atas langit. Ia adalah Surga Khuldi.

Az-Zamakhsyar menganggap bahwa firman-Nya, ''Turunlah kalian semua darinya.'' adalah khusus untuk Adam dan Hawa. Mereka berdua disebut dengan kata ganti jamak untuk melibatkan seluruh keturunan keduanya. Dalilnya firman Allah s.w.t., ''Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh sebagian yang lain.'' (QS. Thaahaa: 123). Ayat yang selaras dengan itu antara lain, ''Barangsiapa mengikuti perintah-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal didalamnya.'' (QS. Al-Baqarah: 39)

Ayat yang disebut terkahir menunjuk pada seluruh umat manusia. Makna firman-Nya, ''Sebagian kalian menjadi musuh bagi sebagian lain.'' adalah permusuhan, kebencian, penyesatan antara satu orang dengan orang lain.

Keterangan Angka

32. Muslim (195)

33. Al-Bukhari (3409, 4736, 4738, 6614, dan 7515). Musli, (2562). Hadis itu berasal dari Abu Huraiah RA. Untuk keterangan lebih lanjut, baca Jaami'uul Ushuul (7598) dan Musnad Abu Ya'ala (2465).


Artikel Terkait
Tags Postingan



Rating Artikel Ini

Kolom Komentar



Walhamdulillahi Rabbil'alamin

0 komentar:

Posting Komentar