Jumat, 22 November 2013

Argumen Yang Mengatakan Surga Adam Adalah Taman di Bumi


Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh




Asyhadu an-laa ilaaha illallaah Wa asyhadu anna Muhammadan rasuulullaah

Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah rasul (utusan) Allah.

Silahkan Membaca dan Menyimak


Allah s.w.t. telah mengabarkan melalui para rasul-Nya, bahwa Surga Khuldi hanya dimasuki di Hari Kiamat. Masa itu belum datang. Namun, Allah s.w.t telah menyebutkan ciri-cirinya di dalam Kitab Suci-NYA. Adalah mustahil bila Allah s.w.t menggambarkan sesuatu dan sesuatu itu tidak memiliki ciri-ciri tersebut.

Kita tahu bahwa Allah s.w.t menggambarkan sifat surga yang dijanjikan untuk orang-orang yang bertakwa dengan sebutan ''darul muqaamah (tempat yang kekal)'' (QS. Faathir: 35). Barangsiapa memasukinya, maka dia akan kekal di dalamnya. Sementara Adam a.s. tidak kekal berada di surga.



Allah s.w.t menyebut surga sebagai ''jannatul Khuldi (surga yang abadi)'' (QS. Al-Furqaan: 15). Sedangkan Adam a.s tidak abadi di dalamnya.

Allah s.w.t menyebut surga sebagai tempat pengganjaran, bukan tempat pemberian tanggungan perintah dan larangan. Sedangkan Adam mendapat perintah dan larangan di surga.

Allah s.w.t menyebut surga sebagai tempat keselamatan mutlak, bukan tempat cobaan dan ujian. Sedangkan Adam diberi cobaan besar di surga.

Allah s.w.t menyebut surga sebagai tempat yang takkan digunakan untuk bermaksiat dan menentang-Nya. Namun Adam a.s telah bermaksiat dan menentang-Nya. Namun Adam a.s telah bermaksiat dan menentang Allah s.w.t di surga.

Allah s.w.t menyebut surga sebagai tempat ketakutan dan kesedihan. Namun Adam a.s telah merasakan ketakutan dan kesedihan di surga.

Allah s.w.t menyebut surga dengan panggilan ''daarus salaam (tempat keselamatan)'' (QS. Al-An'aam: 127). Namun, Adam tidak selamat dari fitnah di dalam surga.''

Allah s.w.t menyebut surga sebagai tempat menetap (daarul qaraar) (QS. Ghaafir: 39). Namun Adam a.s tidak menetap di surga.



Allah s.w.t, berfirman, ''Mereka tidak merasa lelah di dalamnya dan mereka sekali-kali tidak akan dikeluarkan daripadanya.'' (QS. Al-Hijr: 48). Namun Adam a.s berlari-lari mencari daun untuk menutupi diri, hingga kelelahan. Dia pun dikeluarkan dari surga.

Allah s.w.t berfirman, ''Di surga tidak ada kata-kata yang tidak bermanfaat dan tidak pula perbuatan dosa.''

Allah mengatakan di surga tidak ada kebohongan. Sementara Adam a.s ditipu oleh Iblis di dalam surga.

Allah menyebut di surga sebagai ''tempat kejujuran'' (QS. Al-Qamar: 55). Namun Iblis telah berbohong dan bersumpah palsu di dalam surga.

Allah s.w.t berfirman kepada para malaikat, ''Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.'' (QS Al-Baqarah: 30). Allah tidak mengatakan, ''Aku menciptakan khalifah di surga.'' Lantas para malaikat berkata, ''Mengapa Engkau menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah?'' (QS. Al-Baqarah: 30). Hal itu mustahil ada di surga.

Allah s.w.t mengabarkan bahwa Iblis berkata kepada Adam a.s., ''Hai Adam, maukah aku tunjukkan kepada kamu pohon Khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa.'' (QS. Thaahaa: 120) Jika Allah s.w.t telah menempatkan Adam a.s di surga yang kekal dan di kerajaan yang takkan hancur, niscaya Adam a.s. Akan menjawab, ''Mengapa kau ingin memberitahu sesuatu yang telah aku terima?'' Perkataan Iblis itu menunjukkan bahwa Allah s.w.t tidak memberitahu Adam a.s. Bahwa dirinya akan berada di surga untuk selama-lamanya. Seandainya tempat Adam saat itu adalah surga yang kekal abadi, maka perkataan Iblis tak ada gunanya. Namun karena Adam a.s., tidak di Surga Khuldi, maka Iblis dapat mengiming-imingnya dengan keabadian di Surga.

Seandainya Adam tinggal di Surga Khuldi yang suci dan hanya ditempati orang suci, maka bagaimana mungkin Iblis yang najis dan hina itu dapat masuk ke surga dan menggoda Adam a.s.? Godaan itu bisa dihembuskan ke hati atau diperdengarkan di telinga. Yang jadi persoalan bagaimana mungkin makhluk yang terlaknat masuk ke tempat orang-orang bertakwa.



Allah s.w.t telah berkata kepada Iblis, ''Turunlah kamu dari surga itu, karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina.'' (QS. Al-A'raaf: 13). Apakah mungkin bagi Iblis untuk naik lagi ke surga yang terletak di atas langit ketujuh setelah diusir dari surga oleh Allah s.w.t.?

Jika dikatakan bahwa Iblis yang berada di bumi menggoda Adam dan Hawa yang berada di atas langit, maka pendapat ini sama sekali tidak masuk akal baik secara bahasa, secara inderawi maupun secara kebiasaan. Jika ada yang menganggap bahwa Iblis masuk ke perut ular yang menyampaikan godaan kepada Amdal dan Hawa, maka perkataan itu pun batik. Sebab, bagaimana mungkin Iblis dapat naik ke surga setelah diusir darinya, meskipun Iblis masuk ke perut ular?

Jika dikatakan bahwa Iblis masuk ke hati Adam dan Hawa, lantas menggoda keduanya, maka pendapat itu pun lemah. Sebab Allah s.w.t menceritakan bagaimana Iblis berbicara langsung kepada Adam dan Hawa, ''Tuhan kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga).'' (QS. Al-A'RAAF: 20). Perkataan Iblis itu menunjukkan bahwa dia melihat Adam, Hawa dan pohon Khuldi.

Ketika Adam a.s. keluar dari surga, Allah s.w.t berfirman, ''Bukankah telah melarang kamu berdua dari pohon itu?'' (QS. Al-A'RAAF: 22) Allah tidak berkata, ''dari pohon ini'', sebagaimana saat iblis berkata, ''Tuhan kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga).'' (QS. Al-A'RAAF: 20).

Ketika Iblis berkata demikian, Adam masih diberi makan dari surga. Menetap di suatu tempat ditunjukkan dengan kata tunjuk yang menunjukkan kehadiran dan kedekatan.

Ketika Allah s.w.t hendak mengeluarkan Adam dan Hawa dari surga, Allah s.w.t berfirman, ''Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon itu?'' (QS. Al-A'RAAF: 22). Di situ kata tunjuk yang digunakan adalah kata yang menunjukkan sesuatu yang jauh (itu). Ayat itu menunjukkan bahwa Adam dan Hawa tidak menetap di surga dan takkan melihat pohon terlarang lagi.

Allah s.w.t berfirman, ''Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikan-Nya.'' (QS. Faathir: 10). Godaan setan adalah perkataan kotor, yang seharusnya tidak bisa naik ke tempat suci.

Mundzir meriwayatkannya, bahwa Nabi Muhammad s.a.w bersabda, ''Adam a.s. tidur di surganya.'' Padahal tidak ada tidur di dalam Surga Khuldi (surga akhirat), sebagaimana disepakati oleh kaum Muslimin. Kesepakatan itu didasarkan pada pertanyaan seseorang kepada Nabi, ''Apakah penghuni surga tidur? Rasulullah s.a.w menjawab, ''Tidak. Tidur adalah saudara mati.'' (34) Al-Qur'an pun telah menyebutkan hal serupa. Kematian adalah perubahan kondisi. Sedangkan surga terbebas dari perubahan kondisi, dan orang yang tidur seperti orang mati.

Mujahid mengatakan, ''Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam, ketika Adam tidur.''

Asbath menyebutkan riwayat dari As-Suda yang menuturkan, ''Adam tinggal di surga. Dia berjalan sendirian tanpa pasangan, lalu ia tidur. Ketika terjaga, Adam mendapati seorang perempuan di samping kepalanya. Perempuan itu diciptakan dari tulang rusuk Adam. Adam pun bertanya kepadanya, ''Siapa engkau?'' Perempuan itu menjawab, ''Aku adalah perempuan.'' Adam bertanya, ''Untuk apa kau diciptakan?'' Perempuan itu menjawab, ''Untuk menentramkan dirimu''.


Artikel Terkait

Tags Postingan


Rating Artikel Ini


Sudah Baca Brader ??? Bener Niiih ??? Oke, Kalau Sudah Membaca Jangan Lupa Komentar


Walhamdulillahi Rabbil'alamin

0 komentar:

Posting Komentar