Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Asyhadu an-laa ilaaha illallaah Wa asyhadu anna Muhammadan rasuulullaah
Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah rasul (utusan) Allah.
Silahkan Membaca dan Menyimak
ROAD TO HEAVEN - JALAN KE SURGA- Itu adalah pendapat yang lemah tentang ayat di atas. Permusuhan yang disebut ayat tersebut adalah permusuhan yang terjadi antara Adam, Iblis dan keturunannya, sebagaimana firman-Nya, ''Sesungguhnya setan adalah musuh kalian. Maka jadikanlah dia musuh.'' (QS. Faathir: 6). Allah s.w.t telah menyebutkan permusuhan antara setan dan manusia. Allah mengabarkan hal itu secara berulang-ulang di dalam al-Qur'an karena pentingnya kewaspadaan dalam permusuhan itu.
Adapun mengenai Adam dan istrinya, Allah telah mengabarkan di dalam Kitab Suci-Nya, bahwa dia diciptakan untuk menempati surga. Allah ciptakan cinta dan kasih sayang antara mereka berdua.
Jadi, cinta kasih itu terjadi antara laki-laki dan perempuan. Adapun permusuhan itu terjadi antara manusia dan setan.
Mengenai firman Allah s.w.t yang berbunyi, ''Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh sebagian yang lain.'' (QS. Thaahaa:123), ditujukan kepada Adam dan Hawa. Sebagian dari mereka bisa menjadi musuh bagi yang lain.
Kata ganti ''Kamu berdua'' bisa merujuk pada Adam dan istrinya, bisa juga merujuk pada Adam dan Iblis. Istri Adam tidak disebut karena mengikuti suami. Jika demikian halnya, maka permusuhan yang disebut terjadi antara orang-orang yang diturunkan adalah permusuhan antara Adam dan Iblis.
Jika kata ganti itu dirujukkan pada Adam dan istrinya, maka ayat itu mengandung dua makna. Pertama, Allah menyuruh Adam dan istrinya untuk turun. Kedua, Allah memberi tahu tentang permusuhan yang terjadi antara Adam dan istrinya melawan Iblis. Karena itu, kata ganti jamak disebutkan di bagian kedua (sebagian dari kalian), bukan di bagian pertama (kalian berdua).
Jadi, Iblis masuk dalam permusuhan yang disebutkan itu, sebagaimana firman-Nya, ''Ini adalah musuh bagimu dan istrimu.'' (QS. Thaahaa: 117). Allah s.w.t pun berfirman pada keturunan Adam, ''Sesungguhnya setan adalah musuh kalian. Maka jadikanlah dia musuh.'' (QS. Faathir: 6).
Coba perhatikan bagaimana kata permusuhan dikaitkan dengan kata ganti jamak (tiga orang atau lebih), bukan dengan kata ganti untuk dua orang (tatsniyyah). Kata ''turun'' kadang dikaitkan dengan kata ganti tunggal.
Kata ''turun'' yang diiringi kata ganti tunggal misalnya firman Allah s.w.t di dalam surah Al-Araaf: ''Turunlah dari surga.'' Contoh lainnya surah Shaad yang menyebutkan kata turun untuk Iblis semata.
Adapun kata ''turun'' yang diiringi dengan kata ganti jamak merujuk pada Adam, istrinya dan Iblis. Sebab, mereka bertigalah yang menjadi fokus cerita.
Sedangkan kata turun yang diiringi kata ganti jamak untuk dua orang, terkadang merujuk pada Adam dan istrinya - karena keduanya memakan buah pohon surga dan melakukan maksiat - atau merujuk pada Adam dan Iblis - karena keduanya pihak-pihak yang menanggung beban tanggung jawab. Kondisi permusuhan Adam dan Iblis itu ditunjukkan untuk menjadi pedoman, nasihat, dan pelajaran bagi keturunan Adam. Jadi, ada dua pendapat tentang kata ganti untuk dua orang dalam kata ''ihbithaa''.
Yang menjelaskan bahwa kata ganti tersebut untuk Adam dan Iblis adalah bahwa Allah s.w.t saat menyebut maksiat hanya menyebut Adam tanpa istrinya. Allah s.w.t berfirman, ''Durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia. Kemudian Tuhannya memilihnya maka Dia menerima tobatnya dan memberinya petunjuk. Allah berfirman, ''Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama.'' (QS. Thaahaa: 121-123). Ayat itu menunjukkan bahwa yang diminta untuk turun adalah Adam, karena dialah yang telah melakukan maksiat, sedangkan istrinya masuk sebagai pengikut.
Allah s.w.t telah mengabarkan bahwa istri Adam turut serta memakan buah terlarang itu bersama Adam. Bahwa Adam diturunkan dan dikeluarkan dari surga karena dia memakannya. Maka diketahui bahwa hukum yang diterapkan pada sang istri juga semacam itu. Dia mengalami apa yang dialami Adam.
Secara keseluruhan, firman Allah s.w.t yang berbunyi, ''Turunlah kalian! Sebagian kalian adalah musuh bagi sebagian yang lain,'' menggunakan kata ganti jamak (kalian). Pengertian ini tidak seharusnya diseret ke arah kata ganti untuk dua orang, seperti dalam firman-Nya, ''Turunlah kalian berdua''.
Orang-orang yang mengatakan surga Adam adalah Surga Khuldi berpendapat bahwa kata ''al-Jannah'' (surga) dilafazkan dalam bentuk kata definitif (tertentu/ma'rifah) dengan huruf alif dan laam (al) di semua tempat, sebagaimana firman-Nya, ''Tinggallah kamu dan istrimu di dalam surga (al-Jannah).'' (QS. Al-Baqarah: 35). Tak ada surga yang dijanjikan dan dikenal kecuali Surga Khuldi yang di janjikan oleh Allah s.w.t untuk hamba-hamba-Nya, meskipun masih dalam keadaan gaib. Kata benda itu (Jannah) telah menjadi nama diri surga, sebagaiman kata al-Madinah (kota Madinah), Al-Bait (Ka'bah), al-Kitab (al-Qur'an) dan lain sebagainya.
Sejauh kata al-Jannah disebut secara ma'rifah (dengan awalan huruf al), maka kata itu langsung diasosiasikan kepada surga yang telah dijanjikan dan diketahui oleh hati orang-orang yang beriman.
Jika Jannah digunakan menyebutkan hal-hal selain surga, biasanya kata itu disebut sejarah nakirah (tidak menentu) atau dibatasi dengan idzafah (frasa), atau dibatasi dengan konteks yang menunjukkan bahwa kata itu menunjuk pada taman di dunia.
Yang pertama, semisal firman Allah s.w.t, ''Dua kebun anggur (jannatain), ''Ma Sya'Allaah, Laa quwwata illaa billaah'' (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah).'' (QS. Al-Kahfi: 39). Yang ketiga, seperti firman Allah s.w.t ''Sesungguhnya Kami telah mencoba mereka (musyrikin Mekah) sebagaimana Kami telah mencobai pemilik-pemilik kebun (Jannah), ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh akan memetik (hasil)nya di pagi hari.'' (QS. Al-Qalam: 17).
Yang membuktikan bahwa surga yang ditempati Adam itu surga Ma'wa, adalah riwayat Hudzah ibn Khalifah dari Auf dari Qasamah ibn Zuhair dari Abu Musa al-Asy'ari yang berkata, ''Ketika mengeluarkan Adam dari Surga, Allah s.w.t membekalinya dengan buah-buahan surga. Allah mengajarinya membuat segala sesuatu. Dan buah-buahan kalian ini berasal dari Surga. Bedanya, buah-buahan surga tidak berubah, sedangkan buah-buahan dunia berubah.''
Allah s.w.t. menjamin Adam bahwa jika dia bertobat, maka Allah s.w.t akan mengembalikannya ke surga. Hal itu seperti diriwayatkan oleh Minhal dari Sa'id ibn Jubair dari Ibnu Abbas yang mengomentari firman Allah berikut ini, ''Maka Adam mendapatkan kalimat dari Tuhannya, maka dia bertobat kepada Allah.'' (QS. Al-Baqarah: 37). Adam berkata, ''Ya Allah! Bukankah Engkau menciptakanku dengan tangan-Mu.'' Allah s.w.t menjawab, ''Ya.'' Adam bertanya, ''Ya Allah! Bukankah Engkau yang meniupkan ruh-Mu! Ke dalam diriku?'' Allah s.w.t menjawab, ''Betul.'' Adam berkata, ''Bukankah Engkau telah menempatkanku di surga?'' Allah menjawab, ''Ya.'' Adam bertanya, ''Ya Allah! Bukankah kasih sayang-Mu mendahului murka-Mu?'' Allah menjawab, ''Betul.'' Adam bertanya, ''Bukankah Engkau menentukan bahwa jika aku bertobat dan memperbaiki diri, maka Engkau akan mengembalikanku ke surga?'' Allah s.w.t menjawab, ''Ya''
Ibnu Abbas meriwayatkan, ''Adam mengatakan kepada Tuhannya ketika Adam bermaksiat kepada-Nya. ''Ya Allah! aku telah bertobat dan memperbaiki diri.'' Allah s.w.t ''Aku akan mengembalikanmu ke surga.''
Itu sebagian argumen orang-orang yang berpendapat bahwa surga yang ditempati Adam adalah Surga Khuldi.
Recent Post
Tags Postingan
Rating Artikel Ini
Kolom Komentar
Walhamdulillahi Rabbil'alamin







0 komentar:
Posting Komentar